Selama ini para astronom meyakini Bumi akan ditelan Matahari saat bintang induk itu mengembang menjadi raksasa merah sekitar lima miliar tahun lagi.
Namun, studi terbaru menunjukkan nasib Bumi mungkin tidak seburuk itu.
>>> Harry Kane Sebut Laga Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026 'Gila'
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengungkapkan Bumi memiliki peluang untuk lolos dari proses tersebut.
Nasib akhir planet bergantung pada bagaimana Matahari kehilangan massanya di tahap akhir kehidupan.
Tim peneliti dipimpin Mats Esseldeurs dari Institute of Astronomy, KU Leuven, Belgia, bersama Stéphane Mathis dan Leen Decin.
Mereka menggunakan model terbaru evolusi bintang dan interaksi gravitasi untuk menghitung perubahan orbit Bumi saat Matahari memasuki fase raksasa merah dan bintang AGB.
Model lama memprediksi Matahari yang mengembang akan menelan Merkurius, Venus, dan akhirnya Bumi. Namun, model baru menemukan dua proses yang saling bersaing.
Gaya pasang surut gravitasi berusaha menarik Bumi mendekati Matahari. Di sisi lain, Matahari kehilangan massa besar melalui angin bintang, melemahkan gravitasinya sehingga orbit Bumi justru menjauh.
Jika kehilangan massa berlangsung cepat, Bumi diperkirakan bisa menghindari Matahari yang membesar. Namun jika lambat, planet tetap berisiko tertelan.
"Nasib Bumi bergantung pada keseimbangan yang sangat rumit," tulis para peneliti dalam makalah mereka, dikutip dari The New York Post.
>>> Jordan Henderson Cedera Serius Saat Perayaan Kemenangan Inggris
Untuk memperkuat model, ilmuwan mempelajari L2 Puppis, bintang berjarak sekitar 200 tahun cahaya yang diperkirakan mirip Matahari di masa tua.
Pengamatan menunjukkan laju kehilangan massa yang bisa menjadi petunjuk masa depan Matahari.
Simulasi menggunakan data tersebut menunjukkan Bumi kemungkinan bertahan melewati fase raksasa merah dan AGB.
Namun, peneliti menegaskan masih ada ketidakpastian karena laju kehilangan massa Matahari belum bisa dipastikan akurat.
Meski Bumi mungkin tidak tertelan, planet ini tidak akan tetap layak huni. Jauh sebelum Matahari mati, luminositasnya terus meningkat.
Dalam sekitar satu miliar tahun, suhu Bumi diperkirakan terlalu panas bagi kehidupan kompleks.
Lautan akan menguap, atmosfer berubah drastis, dan kehidupan seperti yang dikenal saat ini hampir pasti punah. Jika Bumi selamat dari kematian Matahari, kemungkinan yang tersisa hanyalah planet tandus.
Penelitian ini tetap penting karena mengubah pemahaman tentang evolusi Tata Surya.
>>> NASA Luncurkan Misi Darurat untuk Selamatkan Observatorium Swift dari Kehancuran
Skenario Bumi ditelan Matahari yang dianggap hampir pasti kini terbuka peluang lain, meski hasil akhir bergantung pada evolusi Matahari miliaran tahun mendatang.

