Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengusulkan agar tarif verifikasi data biometrik untuk registrasi SIM card ditetapkan di bawah Rp 1.000.
Saat ini, operator seluler seperti Indosat Ooredoo Hutchison, Telkomsel, dan XLSmart dikenai biaya Rp 3.000 untuk satu kali transaksi pencocokan data biometrik.
>>> Ronaldo Kalahkan Messi, Jadi Pemain Terbanyak Ditonton di Piala Dunia
Sementara itu, verifikasi data nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK) dibanderol Rp 1.000.
Direktur Eksekutif ATSI Marwan O.
Baasir mengatakan, berdasarkan hitungan operator, biaya realistis untuk verifikasi NIK dan KK adalah Rp 70, sedangkan data biometrik Rp 200.
Ia mencontohkan India yang menerapkan tarif setengah Rupee atau sekitar Rp 98 untuk verifikasi serupa.
>>> Perempatfinal Piala Dunia 2026: Ancaman Suspensi Kartu Kuning Mengintai
Marwan menilai tarif Rp 3.000 tidak realistis di tengah tantangan ekonomi saat ini, terutama jika dibandingkan dengan negara lain.
Ia berharap tarif baru bisa di bawah Rp 1.000, dan saat ini masih dikoordinasikan dengan Dukcapil serta mempertimbangkan aspek PNBP.
Tarif verifikasi berdampak langsung pada biaya operasional operator karena setiap aktivasi nomor baru wajib melalui proses biometrik.
Estimasi penjualan kartu SIM mencapai 6 juta per bulan atau 72 juta per tahun, sehingga total transaksi verifikasi bisa mencapai ratusan juta.
>>> Kiper Vozinha ke Inter Miami? Berpotensi Satu Tim dengan Lionel Messi
"Jika tarif terlalu tinggi, tentu akan membebani operasional operator," ujar Marwan.
