Rampungnya lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz menjadi tonggak penting bagi pengembangan jaringan seluler Indonesia.
Namun, tambahan spektrum tersebut bukan berarti masyarakat akan langsung menikmati internet yang lebih cepat.
>>> Listyo Sigit: Kejurnas MTB 2026 Langkah Strategis ke Ajang Dunia
Dalam analisis terbarunya, Opensignal menyebut pelelangan spektrum yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dinilai sebagai suntikan yang sangat dibutuhkan bagi pengembangan 5G nasional.
Indonesia selama ini menghadapi keterbatasan spektrum yang menjadi tantangan besar.
Salah satu tantangan terbesar industri telekomunikasi nasional adalah keterbatasan sumber daya frekuensi, terutama pada pita menengah (mid-band). Padahal, pita tersebut menjadi tulang punggung layanan broadband seluler dan 5G.
Kondisi tersebut membuat operator harus melayani pertumbuhan trafik data yang terus meningkat dengan ruang spektrum yang relatif terbatas.
Akibatnya, kapasitas jaringan dan kualitas layanan di sejumlah wilayah terdampak.
Lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz dinilai menjadi langkah strategis untuk keluar dari krisis spektrum. Kebutuhan layanan digital yang terus meningkat mendorong langkah ini.
"Tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz akan menjadi lompatan besar bagi pengembangan 5G di Indonesia.
Frekuensi baru ini akan memperluas jangkauan sinyal, meningkatkan kapasitas jaringan untuk melayani lebih banyak pengguna, serta mengurangi kepadatan trafik yang selama ini sulit diatasi jika hanya mengandalkan pita 2,1 GHz dan 2,3 GHz," kata Opensignal.
Pita 700 MHz memiliki karakteristik jangkauan yang luas sehingga efektif memperluas cakupan layanan hingga wilayah suburban dan pedesaan.
Sementara itu, pita 2,6 GHz menyediakan kapasitas lebih besar untuk mengakomodasi lonjakan trafik data di kawasan perkotaan yang padat pengguna.
>>> Final Piala Dunia 2026: De la Fuente Yakin Argentina Tak Akan Main Kotor
