Seberapa hijau Sahara pada akhirnya juga ditentukan oleh berbagai faktor lain, seperti suhu samudra, keberadaan lapisan es, vegetasi, hingga jumlah debu di atmosfer.
Bukti Geologi dan Arkeologi
Bukti geologi mendukung keberadaan Sahara Hijau.
Citra satelit memperlihatkan bekas aliran sungai purba yang kini terkubur pasir, salah satunya adalah Sungai Tamanrasset yang dahulu mengalir melintasi Sahara Barat.
Pada periode lembap tersebut juga terbentuk Mega-Chad, danau purba yang luasnya mencapai lebih dari 350.000 kilometer persegi, hampir menyamai luas Laut Kaspia saat ini.
Banyak danau lain juga tersebar di berbagai bagian gurun.
Keberadaan satwa air di Sahara tidak hanya diketahui dari lukisan batu prasejarah, tetapi juga dari temuan arkeologi.
Di situs Gobero di Niger, arkeolog menemukan sekitar 200 makam manusia di tepi danau purba, lengkap dengan sisa-sisa tulang kuda nil, ikan, kura-kura, dan hewan air lainnya.
Di Takarkori, Libya barat daya, para peneliti mengidentifikasi lebih dari 17.500 sisa tulang hewan, termasuk sisik kulit dan fragmen tengkorak buaya.
Temuan ini menunjukkan bahwa Sahara pernah menjadi ekosistem yang kaya akan sumber air dan kehidupan.
Meskipun siklus orbit Bumi akan terus berlangsung, ilmuwan tidak dapat menentukan kapan Sahara akan kembali menghijau.
>>> Hasil SEA V Cup 2026: Kalahkan Filipina, Indonesia ke Semifinal
Hal ini karena selain dipengaruhi presesi orbit, kondisi Sahara juga ditentukan oleh faktor lain seperti suhu permukaan laut, sirkulasi Samudra Atlantik, konsentrasi karbon dioksida, vegetasi, debu, hingga perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
