Karena itu, menurut Wasa, smart glasses lebih tepat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan aktivitas pribadi daripada menjadikan orang lain sebagai objek utama.
Minta Izin Sebelum Merekam
Wasa menekankan batas yang harus dipahami setiap kreator ketika menggunakan kamera wearable di ruang publik. Apabila seseorang hanya melintas di latar belakang, hal tersebut masih tergolong wajar.
Namun situasinya berbeda jika wajah seseorang menjadi fokus utama konten.
>>> Semenyo: Iman dan Sepak Bola Selalu Jadi Prioritas Utama
"Kalau orangnya jadi inti cerita, menurut saya lebih baik minta izin dulu. Kasih tahu mau bikin konten dan merekam pakai kacamata ini.
Kalau mereka berkenan ya lanjut, kalau tidak ya jangan dipaksa," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar kreator menghormati para petugas pameran, SPG, SPB, maupun usher yang sedang bekerja.
"Mereka berdiri seharian untuk bekerja. Etika dan adab harus dipikirkan juga, jangan egois," tambahnya.
Jangan Viral dengan Melanggar Privasi
Belakangan muncul konten yang merekam orang asing menggunakan smart glasses lalu diunggah dengan narasi seperti 'cara mendekati cewek'.
Wasa mengaku tidak pernah terpikir membuat konten semacam itu.
Menurutnya, masih banyak ide konten teknologi yang lebih bermanfaat daripada mengejar perhatian lewat pelanggaran privasi.
"Konten seperti itu menurut saya dipaksakan dan tidak mendidik. Masih banyak konten yang lebih bermanfaat daripada 'cara deketin cewek'," katanya.
Ia juga menilai tidak pantas jika kreator meminta ganti biaya produksi ketika diminta menghapus video yang melanggar privasi orang lain.
"Hahaha... nggak wajar lah.
Orang yang direkam saja juga nggak dapat apa-apa," ujarnya.
Menurut Wasa, komunitas kreator sudah saatnya memiliki kebiasaan sederhana saat menggunakan smart glasses, yakni selalu meminta izin sebelum menjadikan seseorang sebagai objek utama konten.
Di sisi lain, penyelenggara acara juga bisa mulai menyusun panduan yang lebih jelas mengenai penggunaan kamera wearable karena teknologi ini semakin umum digunakan.
Meski belum tentu membutuhkan regulasi baru, ia menilai edukasi dan penegakan aturan yang sudah ada jauh lebih penting saat ini.
"Teknologi makin ke sini makin smart. Karena itu etika sebagai kreator juga harus ikut smart.
>>> BPJS Ketenagakerjaan Tak Halangi Bansos, Ini Penjelasan Komdigi
Jangan sampai demi konten kita mengabaikan rasa nyaman orang lain," tutupnya.
