"Luar angkasa memang menawarkan energi Matahari yang melimpah, tetapi juga merupakan lingkungan yang sangat keras untuk mengoperasikan pusat data," demikian penjelasan para peneliti.
Kritik lainnya adalah potensi meningkatnya jumlah satelit secara drastis.
Beberapa proposal bahkan membayangkan konstelasi yang terdiri atas ratusan ribu hingga lebih dari satu juta satelit untuk menopang komputasi AI.
Menurut para peneliti, semakin banyak satelit diluncurkan, semakin besar pula risiko tabrakan di orbit yang dapat menghasilkan sampah antariksa baru.
Puing-puing tersebut berpotensi mengganggu satelit lain yang digunakan untuk komunikasi, navigasi, hingga pemantauan cuaca.
Pendukung proyek berpendapat data center di orbit dapat mengurangi tekanan terhadap lingkungan di Bumi.
Namun, sejumlah ilmuwan mengingatkan bahwa dampak peluncuran roket, pembuatan satelit, serta proses saat satelit memasuki kembali atmosfer juga harus diperhitungkan.
"Kita perlu memahami seluruh konsekuensi lingkungannya sebelum sistem sebesar ini dibangun," kata para peneliti yang mengkritisi proyek tersebut.
Para ahli menegaskan bahwa konsep data center luar angkasa masih berada pada tahap awal.
>>> NQI Bawa Layanan Internet Satelit Super Cepat China Satcom ke Indonesia
Sebelum diwujudkan dalam skala besar, mereka meminta dilakukan kajian ilmiah yang komprehensif agar solusi untuk kebutuhan AI tidak justru menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan Bumi maupun ruang antariksa.
