Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan bahwa jawaban dari chatbot kecerdasan buatan di media sosial tidak bisa disamakan dengan kondisi yang sesungguhnya.
Masyarakat diimbau agar memahami cara kerja teknologi tersebut serta memeriksa kembali informasi sebelum memutuskan untuk mempercayainya.
Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi, Marroli J. Indarto, menyampaikan bahwa algoritma media sosial turut memengaruhi informasi yang dikonsumsi pengguna setiap hari.
Konten yang muncul di linimasa dipilih berdasarkan berbagai faktor seperti aktivitas, minat, serta interaksi dari masing-masing pengguna.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Ngopi Komdigi yang berlangsung di Jakarta pada hari Kamis.
Sistem rekomendasi tersebut membuat informasi yang diterima setiap individu bisa berbeda dan tidak dapat dijadikan acuan tunggal dalam memahami kondisi masyarakat.
Perkembangan kecerdasan buatan memang membawa banyak manfaat untuk mencari informasi serta mendukung kegiatan belajar dan pekerjaan sehari-hari.
Kendati demikian, pengguna tetap perlu bersikap kritis terhadap setiap jawaban yang dihasilkan oleh chatbot.
Sistem AI menyusun jawaban berdasarkan pola yang dipelajari serta mekanisme pemrosesan bahasa yang digunakannya.
Kondisi tersebut membuat jawaban yang diberikan chatbot masih memiliki kemungkinan keliru sehingga perlu diverifikasi melalui sumber lain.
Komdigi juga meminta platform digital untuk meningkatkan transparansi mengenai sistem yang membentuk pengalaman digital para penggunanya.
