JELI juga memiliki pasar ekspor dan jaringan distribusi nasional yang kuat.
Untuk memperkuat operasional, JELI mengakuisisi PT Supra Natami Utama pada 2025 sebagai integrasi vertikal guna mengamankan pasokan bahan baku.
Perusahaan juga membangun sumur deepwell dan meningkatkan kapasitas listrik pabrik.
Hendry menambahkan bahwa langkah mitigasi risiko rantai pasok sebelum IPO menjadi sinyal positif bagi investor. JELI juga akan menggunakan sebagian besar dana IPO untuk ekspansi mesin produksi baru.
Daya Tarik bagi Investor
Pasca IPO, pemilik lama JELI masih menguasai sekitar 74% saham, sementara pemilik PRDL mempertahankan sekitar 70% saham.
Free float yang rendah dapat meningkatkan volatilitas harga, namun menunjukkan komitmen pemilik.
Dari sisi valuasi, PRDL menawarkan P/E 10–12 kali dengan margin tinggi, sedangkan JELI diperdagangkan pada P/E 31–38 kali sejalan dengan pertumbuhan laba dari Rp 1,4 miliar (2023) menjadi Rp 39,4 miliar (2025).
Kedua perusahaan didukung penjamin emisi Sucor Sekuritas yang memiliki rekam jejak baik.
>>> Indonesia Raih Komitmen Rp303 Triliun dan Dukungan Panda Bond dari China
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menambahkan bahwa investor perlu memperhatikan fundamental, pertumbuhan laba, dan valuasi IPO.