⌂ Beranda News Rusia Pernah Coba Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Antariksa

Rusia Pernah Coba Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Antariksa

Rusia Pernah Coba Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Antariksa
Ilustrasi: Rusia Pernah Coba Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Antariksa
A A Ukuran Teks16px

Bayangkan malam hari tiba-tiba terang tanpa lampu.

Gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah ini pernah diuji Rusia lebih dari 30 tahun lalu melalui proyek cermin raksasa di antariksa bernama Znamya.

>>> Prancis vs Spanyol: Duel Semifinal Piala Dunia 2026, Ini Link Streamingnya

Konsep serupa kini kembali menarik perhatian sebagai solusi penerangan malam dan peningkatan produksi energi surya.

Uji Coba Znamya 2

Pada 1993, Rusia menguji Znamya 2, sebuah cermin reflektif berdiameter sekitar 20 meter yang dibawa wahana kargo Progress M-15.

Ketika dibentangkan di orbit, permukaannya memantulkan sinar Matahari ke Bumi, menghasilkan berkas cahaya selebar sekitar 5 kilometer dengan tingkat kecerahan mendekati cahaya bulan purnama.

Cahaya tersebut melintas dari Prancis selatan hingga Rusia barat dengan kecepatan sekitar 8 kilometer per detik.

Proyek Znamya dipimpin insinyur Rusia Vladimir Syromyatnikov, awalnya dirancang sebagai layar surya untuk mendorong wahana antariksa menggunakan tekanan cahaya Matahari.

Konsep tersebut kemudian diubah menjadi cermin orbit yang memantulkan sinar Matahari ke permukaan Bumi, dengan tujuan memberikan penerangan bagi wilayah terpencil.

Keberhasilan uji coba pertama mendorong Rusia menyiapkan proyek lanjutan Znamya 2.5 pada 1999 dengan cermin berdiameter 25 meter.

>>> Mantan Pemain Liverpool Sarankan Ronaldo Pensiun dari Timnas Portugal

Namun, eksperimen itu gagal setelah cermin tersangkut antena wahana Progress saat dibentangkan, dan proyek Znamya pun dihentikan.

Konsep Serupa Kembali Hidup

Meski proyek Rusia berhenti, gagasan menggunakan cermin di antariksa kembali hidup.

Perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Reflect Orbital, tengah mengembangkan satelit dengan cermin reflektif besar untuk mengarahkan cahaya Matahari ke lokasi tertentu setelah Matahari terbenam.

Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk proyek konstruksi, operasi pencarian dan penyelamatan, penanggulangan bencana, hingga membantu pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan energi lebih lama.

Satelit demonstrasi pertamanya dirancang membawa cermin berukuran sekitar 18 × 18 meter yang mampu memantulkan cahaya setara sinar bulan ke area berdiameter sekitar 5 kilometer di permukaan Bumi.

Konsep cermin antariksa memunculkan kekhawatiran. Para astronom menilai pantulan cahaya buatan berpotensi mengganggu pengamatan langit malam.

Ilmuwan lingkungan mengingatkan perlunya kajian mengenai dampaknya terhadap satwa nokturnal dan ekosistem.

>>> Desain Huawei FreeClip 2 S Mirip Mutiara, Case Boks Perhiasan

Namun, proyek Rusia pada 1993 membuktikan bahwa gagasan mengubah malam menjadi terang bukan sekadar khayalan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM