⌂ Beranda News Kreator YouTube Sumbang Rp 8,4 Triliun ke PDB Indonesia pada 2025

Kreator YouTube Sumbang Rp 8,4 Triliun ke PDB Indonesia pada 2025

Kreator YouTube Sumbang Rp 8,4 Triliun ke PDB Indonesia pada 2025
Ilustrasi: Kreator YouTube Sumbang Rp 8,4 Triliun ke PDB Indonesia pada 2025
A A Ukuran Teks16px

Ekonomi kreatif yang dibangun di platform YouTube telah memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, mencapai Rp 8,4 triliun pada tahun 2025.

Penelitian dari Oxford Economics juga mencatat bahwa ekosistem ini berhasil menciptakan 190.000 lapangan kerja setara penuh waktu di Indonesia pada tahun yang sama.

>>> Presiden FIFA Habiskan 142 Jam Terbang Selama Piala Dunia 2026

Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, menyatakan bahwa ekosistem kreatif YouTube tidak hanya berkontribusi pada PDB, tetapi juga membantu 81% kreator Indonesia menjangkau audiens internasional.

Transformasi ide kreatif menjadi profesi utama yang berkelanjutan terlihat jelas, di mana banyak kreator berkembang menjadi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang membuka lapangan kerja.

Dampak positif ini meluas ke sektor lain, mendukung pertumbuhan studio, pemasok, hingga penyedia layanan lokal di seluruh negeri.

Sebanyak 75% UMKM dengan kanal YouTube melaporkan bahwa platform tersebut membantu konten mereka menjangkau pasar global, sebuah pencapaian yang sebelumnya sulit diraih.

Lebih dari seperempat saluran YouTube di Indonesia berhasil meraih pendapatan tahunan fantastis, mencapai 10 digit atau lebih dari Rp 1 miliar.

>>> Mario Gila Langsung Nyaman di AC Milan, Merasa Seperti Keluarga

Pentingnya Keseimbangan Antara Online dan Offline

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menekankan bahwa potensi besar Indonesia perlu diukur tidak hanya dari pasar dan pekerjaan, tetapi juga dari ekspor produk dan layanan.

Ia menyoroti contoh kreator seperti 'Baba Lili Tata' (BaLiTa) yang memiliki jutaan pelanggan di internet, namun masih perlu upaya untuk memperluas jangkauan ke pasar offline dan membangun lisensi.

Kolaborasi BaLiTa dengan Plaza Indonesia membuktikan bahwa kehadiran digital yang kuat dapat diterjemahkan menjadi kesuksesan di dunia nyata, menarik perhatian publik yang luas.

Irene menambahkan bahwa kesuksesan digital seharusnya tidak membuat kreator merasa cukup, karena potensi ekspansi ke bisnis offline sangat besar.

Contoh lain adalah film animasi 'Jumbo' yang meraih lebih dari 10 juta penonton di bioskop dan terus berinovasi melalui lisensi serta kolaborasi, seperti dengan Discovery Hotel Ancol.

>>> Samsung Ungkap Teknologi di Balik Kacamata Pintar AI Pertama

Hal ini menunjukkan pentingnya diversifikasi ke bisnis offline yang nyata untuk memaksimalkan potensi sebuah merek.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM