Lalu lintas internet global kini didominasi oleh bot dan agen kecerdasan buatan (AI). Aktivitas otomatis ini telah melampaui pengguna manusia untuk pertama kalinya, menurut laporan Cloudflare Radar.
Data menunjukkan bahwa AI agent dan bot menyumbang 57,4 persen dari total trafik web global. Sementara itu, aktivitas manusia tercatat sebesar 42,6 persen.
>>> Veda Ega Pratama Terkena Sanksi Long Lap Penalty di Moto3 Hungaria
Cloudflare mengonfirmasi bahwa jenis bot yang beroperasi sangat bervariasi. Ini mencakup alat pemantau situs, crawler mesin pencari, pemindai otomatis, hingga agen AI modern.
Berbeda dengan tren global, kondisi di Indonesia menunjukkan aktivitas manual oleh manusia masih mendominasi sebesar 54 persen. Aktivitas bot di Indonesia tercatat sebesar 46 persen.
Pengguna internet di Indonesia paling banyak menggunakan perangkat mobile dengan porsi mencapai 61,5 persen. Tren ini berbeda dengan tren dunia yang didominasi perangkat desktop sebesar 60 persen.
Fenomena lonjakan trafik otomatis ini kembali memicu perdebatan mengenai "Dead Internet Theory". Teori yang muncul pada akhir 2010-an ini berspekulasi bahwa mayoritas aktivitas internet digerakkan oleh sistem otomatis.
>>> 2.543 Napi Dipindahkan dari Lapas Jambi dan Bagansiapiapi ke Fasilitas Baru
Pertumbuhan masif teknologi AI generatif dinilai membuat teori tersebut semakin relevan dengan kondisi riil jaringan global saat ini.
Pertumbuhan trafik agen AI ini lebih cepat dari perkiraan.
Manajemen Cloudflare memprediksi perkembangan ini akan mendorong perubahan skema bisnis platform digital di masa depan. Tujuannya adalah untuk mengontrol pengambilan data otomatis oleh pihak ketiga.
>>> Prabowo Terbitkan Aturan Ekspor Satu Pintu untuk Komoditas Strategis
Pemilik situs web diperkirakan bakal menerapkan model komersial baru bernama "pay to crawl". Model ini mewajibkan perusahaan kecerdasan buatan membayar akses data demi melatih sistem mereka.