Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan kecepatan internet rata-rata di Indonesia mencapai 100 Mbps dalam dua tahun mendatang.
Target ini akan dicapai melalui percepatan pembangunan infrastruktur digital, peningkatan investasi operator telekomunikasi, dan perluasan akses internet ke wilayah yang minim layanan.
>>> Fabio Di Giannantonio Resmi Gabung KTM, Susul Alex Marquez
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyatakan akses internet yang cepat, merata, dan terjangkau adalah kebutuhan dasar masyarakat.
Pemerintah berkomitmen untuk mencapai 100 Mbps dalam dua tahun ke depan secara merata dan dengan harga yang semakin terjangkau.
Fokus Peningkatan Konektivitas Nasional
Peningkatan kualitas konektivitas menjadi fokus utama Komdigi dengan visi "Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga".
Infrastruktur digital yang kuat diyakini dapat mendorong ekonomi digital, meningkatkan produktivitas, dan memperluas akses layanan publik digital.
Untuk merealisasikan target tersebut, Komdigi mendorong operator telekomunikasi meningkatkan belanja modal (capex).
>>> Brasil Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Air Mata Fans Mengalir di Rio
Langkah ini mencakup pengembangan jaringan serat optik, penguatan layanan fixed broadband, dan pemanfaatan teknologi satelit untuk menjangkau daerah terpencil.
Operator seluler dan perusahaan telekomunikasi didorong untuk meningkatkan capex agar dapat menjangkau daerah pinggiran dan memberikan akses internet terjangkau dengan kualitas layanan yang lebih baik.
Nezar mengakui pemerataan akses internet masih menjadi tantangan besar, dengan masih ditemukannya wilayah blank spot bahkan di Pulau Jawa.
Pemerintah menerapkan pendekatan terpadu untuk menutup kesenjangan infrastruktur dan konektivitas nasional.
Pembangunan infrastruktur di wilayah tertinggal terus dilanjutkan, dikombinasikan dengan penguatan jaringan serat optik, broadband tetap, dan konektivitas satelit untuk akses internet yang andal.
>>> Telkom Selesaikan Penyederhanaan 10 Entitas untuk Dukung Transformasi Bisnis
Konektivitas menjadi kebutuhan melekat dalam kehidupan sehari-hari, terbukti saat bencana di mana pemulihan sinyal menjadi permintaan penting selain bantuan logistik.

