Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara di kawasan Afrika Sub-Sahara. Langkah ini bertujuan membuka pasar baru bagi produk dan investasi asal Indonesia.
Kolaborasi strategis ini mencakup penjajakan di berbagai sektor potensial, mulai dari pangan, kesehatan, energi, hingga infrastruktur.
>>> KPK Periksa Dua Tersangka Korupsi Kuota Haji, Kerugian Negara Rp622 Miliar
Penguatan hubungan dagang tersebut dilakukan untuk memaksimalkan kehadiran produk unggulan domestik di salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Saat ini, nilai perdagangan Indonesia dengan Benua Afrika tercatat baru sekitar 18,5 miliar dollar AS atau hanya menyumbang 3,5 persen dari total perdagangan nasional.
Namun, ruang pertumbuhan dinilai masih sangat luas mengingat ekonomi Afrika Sub-Sahara diproyeksikan tumbuh 4 hingga 4,5 persen pada 2026.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, menyatakan bahwa kebutuhan pembangunan di berbagai negara Afrika pada sektor pangan, kesehatan, energi, dan infrastruktur membuka peluang luas bagi produk dan investasi Indonesia.
Pemerintah menilai komoditas seperti minyak sawit, produk kertas, makanan olahan, serta barang konsumsi lainnya memiliki potensi besar di pasar tersebut.
Hubungan dagang ini juga menjadi bagian dari taktik diversifikasi pasar di tengah dinamika global yang tidak pasti.
>>> Cosmeticorexia: Obsesi Skincare Berlebihan pada Anak Picu Masalah Kulit dan Mental
Dyah Roro Esti Widya Putri menambahkan bahwa Afrika merupakan kawasan yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi menjanjikan dan menjadi mitra strategis Indonesia dalam memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi jangka panjang.
Indonesia menempatkan posisi Afrika setara sebagai mitra pembangunan yang sevisi untuk kemajuan inklusif.
Pemerintah menyiapkan tiga jalur utama demi mengoptimalkan peluang ekonomi tersebut, yaitu keterlibatan dengan organisasi ekonomi regional, pendalaman kerja sama bilateral dengan negara prioritas, serta perluasan jangkauan diplomasi di Afrika Timur, Barat, dan Selatan.
Indonesia juga merespons positif adanya kawasan perdagangan bebas Afrika atau AfCFTA.
Sektor swasta dan komunitas bisnis turut dilibatkan secara aktif untuk mendorong terciptanya kontrak dagang dan investasi nyata.
Pendekatan ini diperkuat melalui instrumen South-South Cooperation, seperti program pelatihan bersama para pemangku kepentingan.
>>> Pemerintah Kucurkan Rp1 Triliun untuk Pulihkan Lahan Pertanian Terdampak Bencana di Sumatra
Pemerintah optimistis hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Afrika akan terus berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan posisi Indonesia di pasar global.
