⌂ Beranda News Fenomena Sell Indonesia: Ketika Kepercayaan Pasar Mulai Menipis

Fenomena Sell Indonesia: Ketika Kepercayaan Pasar Mulai Menipis

Fenomena Sell Indonesia: Ketika Kepercayaan Pasar Mulai Menipis
Ilustrasi grafik pasar saham dan rupiah yang melemah
A A Ukuran Teks16px

Karena itu, sentimen negatif sering bergerak lebih cepat daripada kabar baik.

Penjelasan George Akerlof dan Robert Shiller tentang animal spirits juga membantu memahami bahwa keputusan ekonomi tidak lahir dari data semata.

Keputusan ekonomi juga lahir dari rasa percaya, rasa takut, dan cerita yang beredar.

Jauh sebelumnya, John Maynard Keynes pun telah mengingatkan bahwa banyak keputusan penting dibuat di tengah ketidakpastian, bukan dalam situasi yang sepenuhnya pasti.

Dari sini, dapat dipahami mengapa masyarakat dan pasar memilih menahan diri.

Bahkan ketika indikator makro belum menunjukkan kerusakan yang mendasar. Karena itu, memulihkan kepercayaan tidak bisa dipahami sebagai urusan komunikasi semata.

Ia menuntut kesesuaian antara apa yang dikatakan negara, apa yang dijalankan kebijakan, dan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Tanpa kesesuaian itu, optimisme akan selalu terdengar sebagai imbauan yang datang dari atas.

Bukan sebagai keyakinan yang tumbuh dari pengalaman bersama. Respons terhadap situasi ini tidak cukup jika hanya berupa penegasan bahwa ekonomi tetap baik-baik saja.

Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui jarak antara statistik dan kenyataan.

Lalu menjembataninya dengan arah yang jelas.

Indonesia membutuhkan ekonomi yang bukan hanya stabil di tingkat makro, tetapi juga terasa meyakinkan di tingkat rumah tangga dan dunia usaha.

Artinya, ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada pertumbuhan, inflasi, atau disiplin fiskal. Ukuran itu harus sampai pada soal yang lebih mendasar.

Apakah pekerjaan yang tercipta memberi rasa aman, apakah daya beli pulih tanpa dibayangi kecemasan, dan apakah pelaku usaha merasa cukup yakin untuk melangkah.

Ekonomi yang baik, pada akhirnya, bukan hanya yang terbaca dalam laporan.

Ekonomi yang baik adalah yang terasa dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, arah kebijakan harus cukup konsisten untuk membuat masa depan terasa dapat diperkirakan.

Dunia usaha, rumah tangga, dan pasar sama-sama mengambil keputusan dengan bertumpu pada keyakinan tentang hari esok. Ketika arah itu kabur, bahkan fondasi yang kuat pun kehilangan daya penggeraknya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru