Dalam konteks seperti sekarang, yang perlu dipulihkan bukan hanya sentimen jangka pendek, tetapi juga kredibilitas bahwa kebijakan dapat dibaca, dijaga, dan tidak mudah berubah arah.
Dari situlah kepercayaan memiliki ruang untuk tumbuh kembali.
Pada saat yang sama, reformasi perlu dipahami bukan sebagai agenda yang jauh dan abstrak. Reformasi perlu dipahami sebagai syarat agar optimisme punya dasar yang nyata.
Selama orang belum melihat bahwa berusaha semakin mudah, bekerja memberi masa depan, dan peluang ekonomi terbuka lebih luas, maka seruan untuk optimistis akan selalu terdengar prematur.
Pada titik ini, tantangan Indonesia bukan memilih antara optimisme dan kehati-hatian.
Tantangannya adalah menjaga agar keduanya berjalan bersama untuk cukup percaya diri untuk mengakui bahwa fondasi kita tidak lemah.
Namun juga cukup jujur untuk melihat bahwa kepercayaan publik tidak lahir dengan sendirinya.
Pada akhirnya, ekonomi tidak bergerak oleh angka semata. Ia juga bergerak oleh keyakinan.
Dalam keadaan seperti sekarang, justru keyakinan itulah yang sedang diuji.
Fundamental yang kuat tetap penting, tetapi baru berarti jika dapat diterjemahkan menjadi rasa aman yang nyata.
Jika itu dapat dilakukan, pembicaraan tentang fundamental ekonomi tidak lagi berhenti sebagai wacana elite atau penghiburan teknokratis.
>>> Polri Tindak Tegas Pemilik Kendaraan yang Modifikasi Pelat Nomor
Ia akan hadir dalam keputusan rumah tangga, di dunia usaha, dan di pasar. Tanpa kepercayaan itu, kekuatan ekonomi sebesar apa pun akan tetap terasa belum cukup.