Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan pada penutupan perdagangan sesi pertama hari Selasa (9/6/2026).
Indeks tercatat naik 257,60 poin atau 4,82 persen ke level 5.599,741.
>>> DPR dan Pemerintah Bahas Buyback Saham BUMN di Tengah Volatilitas Pasar
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan indeks dibuka di posisi 5.344,688.
Sepanjang sesi, IHSG bergerak fluktuatif dengan level tertinggi 5.627,575 dan terendah 5.318,145.
Sebanyak 603 saham tercatat menguat, sementara 118 saham melemah dan 92 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 24,71 miliar saham dengan frekuensi 1,47 juta kali.
Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 13,79 triliun. Kapitalisasi pasar BEI pun meningkat menjadi Rp 9.845,39 triliun.
Sentimen Positif Domestik
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengungkapkan bahwa pergerakan optimistis pasar hari ini didorong sejumlah sentimen positif domestik.
Faktor pertama adalah apresiasi nilai tukar rupiah sebesar 40 poin ke posisi Rp 18.147 per dolar AS pada pembukaan perdagangan.
"Pergerakan rupiah yang terpantau menguat tipis pada pembukaan perdagangan pagi tadi langsung memberikan ketenangan psikologis awal ke pasar," ujar Azharys.
Faktor kedua berasal dari sinyal positif Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pemerintah membatalkan skema gross split dan berpotensi merelaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor mineral dan batu bara.
"Keputusan pemerintah menjadi angin segar yang sangat dinanti pelaku pasar," kata Azharys.
>>> Telkom Rombak Dewan Komisaris untuk Perkuat Transformasi Digital
Menurut Azharys, kondisi pasar hari ini sepenuhnya dikuasai oleh dinamika dalam negeri.
Kepastian regulasi komoditas dan stabilitas mata uang dinilai lebih kuat memengaruhi psikologis investor dibandingkan riak kecil di pasar global.
Peran Saham Heavyweight
Kebangkitan saham-saham berkapitalisasi besar (heavyweight) menjadi motor utama pendorong indeks. Saham sektor perbankan dan telekomunikasi seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM memberikan efek dongkrak signifikan.
"Perannya jelas sangat besar dan krusial. Bobot mereka terhadap pergerakan IHSG sangat dominan.
Begitu ada aksi beli kembali atau rebound pada saham-saham heavyweight ini, efek dongkraknya ke indeks langsung terasa instan," jelas Azharys.
Terkait isu penarikan dana besar-besaran atau fenomena "Sell Indonesia", Azharys meluruskan bahwa kekhawatiran tersebut mulai mereda.
Sentimen negatif itu lebih banyak dipicu oleh sirkulasi ulang artikel-artikel lama di media massa.
"Realitasnya di lapangan saat ini, tekanan outflow justru perlahan-lahan mulai mereda," kata Azharys.
Aktivitas pasar ini dinilai bukan sekadar technical rebound biasa.
>>> KPK Teliti Fakta Persidangan Kasus Bea Cukai Terkait Raffi Ahmad
Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun ke level 7,3 persen dan rencana kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut memperkuat daya tarik aset domestik.