⌂ Beranda News BI Naikkan BI Rate ke 5,50% untuk Jaga Stabilitas Rupiah

BI Naikkan BI Rate ke 5,50% untuk Jaga Stabilitas Rupiah

BI Naikkan BI Rate ke 5,50% untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Grafik cadangan devisa Indonesia menurun
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen pada Selasa, 9 Juni 2026.

Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi global.

>>> OJK Panggil Toyota Astra Financial Services Terkait Masalah Penagihan Kredit

Langkah pengetatan moneter ini berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan.

Hal ini dapat menahan penurunan bunga kredit dan memperberat dunia usaha yang sudah menghadapi tekanan biaya akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan bahwa pelaku usaha saat ini menghadapi lonjakan biaya produksi.

Ia menekankan perlunya Bank Indonesia menyelaraskan perlindungan nilai tukar dengan upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi domestik.

"BI tidak boleh membuat likuiditas terlalu ketat sehingga kredit produktif melemah dan pertumbuhan ekonomi ikut tertahan," ujar Josua Pardede.

>>> Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Laut Sulawesi, Susulan Gempa Filipina

Untuk mengatasi potensi pengetatan, Josua menilai penyediaan fasilitas likuiditas perbankan yang memadai sangat krusial. Hal ini agar stabilisasi nilai tukar tidak menekan sektor pembiayaan riil.

Respons tegas dari bank sentral dinilai mendesak untuk meredam gejolak pasar global dan menjaga kepercayaan investor. "Kenaikan BI Rate hari ini adalah langkah yang perlu dan tepat.

BI sedang mengirim pesan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas," tambah Josua.

Efektivitas instrumen suku bunga ini juga memerlukan sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah yang kredibel serta pengelolaan utang yang pruden.

Keberhasilan kebijakan moneter akan diukur dari kemampuan domestik dalam menarik kembali arus modal asing.

>>> Biaya Pembuatan SIM C Baru Resmi Ditetapkan Rp 100.000 oleh Polri

"Rupiah tidak hanya membutuhkan suku bunga yang menarik, tetapi juga kepercayaan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia tetap konsisten, hati-hati, dan ramah terhadap investasi," pungkas Josua Pardede.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru