Fenomena jarak emosional antara orang tua dan anak menjadi perhatian serius karena dapat memicu kerengangan hubungan hingga dewasa.
Hubungan yang hangat dapat dibangun melalui metode sederhana, yaitu meluangkan waktu untuk bermain bersama.
>>> Daniel Sturridge Pantau Seleksi Pemain Muda di Program Second Chance Bekasi
Bermain memiliki fungsi krusial sebagai jembatan untuk membangun ikatan emosional sekaligus mengenali karakter anak secara mendalam. Aktivitas ini bukan sekadar sarana mengisi waktu luang.
Menurut Pritta, seorang narasumber, mengingatkan anak tentang tugas sekolah, makan, atau tidur, semuanya berdasar pada koneksi yang kuat.
Anak perlu percaya pada orang tua dan memiliki kualitas hubungan yang baik.
Langkah awal membangun kedekatan adalah dengan menyelami dunia anak dan ikut serta dalam aktivitas yang mereka gemari.
Terdapat tiga manfaat utama dari aktivitas bermain bersama yang dapat memperkokoh ikatan orang tua dan anak.
Pertama, bermain menciptakan pola interaksi dua arah yang dinamis atau dikenal dengan istilah serve and return.
Orang tua dan anak dapat saling bekerja sama dan berkolaborasi demi mencapai satu tujuan permainan.
Proses kolaborasi ini berdampak besar bagi psikologis anak, membuat mereka merasa selalu diperhatikan dan dilibatkan secara aktif oleh orang tua.
>>> Pemerintah Beri Subsidi Kedelai Rp 2.000/Kg untuk 250.000 Ton Tahap Awal
Kedua, bermain menyediakan ruang ekspresi perasaan bagi anak. Anak dapat menyalurkan emosi serta isi pikiran mereka tanpa rasa takut, sehingga mengurangi kemungkinan emotional distance.
Dialog yang mengalir secara natural saat bermain memudahkan orang tua membaca kondisi psikologis anak, terutama ketika mereka kesulitan mengekspresikan emosi secara verbal.
Ketiga, bermain adalah sarana memberikan apresiasi positif. Orang tua dapat memberikan penguatan atas usaha, daya kreativitas, maupun keberhasilan kecil yang diraih anak selama permainan.
Pemberian validasi dan pujian penting agar anak merasa dihargai dan diakui keberadaannya. Anak yang kekurangan validasi cenderung sulit merasa puas terhadap pencapaian diri mereka saat dewasa.
Positive feedback dan kalimat positif dari orang tua membuat anak merasa diapresiasi selama bermain, yang berpengaruh pada koneksi mereka.
Membangun kedekatan lewat interaksi sederhana ini menjadi modal dasar krusial bagi masa depan anak.
Bekal emosional yang kuat akan membentengi anak saat menghadapi berbagai tantangan sosial, seperti pergaulan dengan teman atau godaan screen time berlebihan.
>>> Pajak Xpeng G6 Cuma Ratusan Ribu Rupiah, Jauh Lebih Murah dari Mobil Bensin
Koneksi melalui bermain dan orang tua yang fokus menemani adalah hal yang harus diperjuangkan untuk anak.