Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengumumkan pemblokiran total navigasi kapal Israel di Laut Merah pada Selasa (9/6/2026).
Mereka juga meluncurkan serangan rudal terbaru yang menargetkan wilayah Israel.
>>> Rawat Baterai Motor Listrik agar Awet hingga Lima Tahun
Langkah ini berpotensi memicu gangguan besar di jalur perdagangan maritim internasional.
Larangan Total dan Serangan Rudal
Pemberlakuan blokade laut disampaikan secara resmi oleh pihak militer Houthi melalui pernyataan tertulis.
"Kami menetapkan larangan total dan menyeluruh terhadap navigasi maritim Israel di Laut Merah," demikian pernyataan Angkatan Bersenjata Houthi.
Mereka menegaskan bahwa seluruh operasi armada yang terafiliasi dengan Israel kini menjadi target.
"Kami menganggap semua pergerakan musuh sebagai target militer yang sah," imbuh pernyataan tersebut.
Selain blokade, Houthi mengonfirmasi serangan udara yang diarahkan ke wilayah pertahanan Israel.
"Kami meluncurkan rentetan rudal yang menargetkan target-target musuh Israel yang sensitif," kata kelompok itu.
>>> Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,5 Persen
Houthi mengklaim serangan tersebut "mencapai tujuannya dengan tepat".
Respons Israel dan Dampak Regional
Pergerakan proyektil dari Yaman langsung direspons oleh militer Israel.
"Telah mengidentifikasi peluncuran rudal dari Yaman menuju ke wilayah Israel, sistem pertahanan udara beroperasi untuk mencegat ancaman tersebut," demikian pernyataan Militer Israel via Telegram.
Aksi eskalasi ini terjadi di tengah situasi memanas akibat saling serang antara Iran dan Israel yang kembali pecah pada Senin (8/6/2026).
Hal itu meningkatkan tekanan terhadap gencatan senjata rapuh yang sudah berlangsung sejak 8 April lalu.
Agresi Houthi memperpanjang rangkaian gangguan kapal kargo di jalur vital tersebut sejak perang Israel-Hamas pecah di Jalur Gaza.
Banyak perusahaan logistik terpaksa mengalihkan rute pelayaran memutari ujung selatan Afrika.
>>> Jung Kyung-ho dan Sooyoung SNSD Putus Setelah 14 Tahun Pacaran
Hambatan logistik ini kian diperparah oleh blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai imbas perang melawan Amerika Serikat dan Israel.