Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengungkapkan tiga opsi utama yang dimiliki Menteri Keuangan dalam mengelola anggaran negara di tengah pelemahan rupiah.
Hal itu disampaikan dalam diskusi di Jakarta, Selasa (9/6/2026). Menurutnya, instrumen tersebut hanya mencakup peningkatan pendapatan, pemotongan pengeluaran, atau penarikan pinjaman.
>>> Polda Metro Jaya Selidiki Laporan Mama Sinta Terkait Film Pesta Babi
“Karena tugas dari Menteri Keuangan itu sebetulnya sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal.
Naikkan, potong, pinjam,” ujar Chatib Basri.
Ia menegaskan tidak ada alternatif lain di luar ketiga opsi tersebut. Jika pendapatan tidak bisa dinaikkan, maka harus memotong belanja.
Jika pemotongan tidak memungkinkan, maka pinjaman menjadi pilihan.
“Ini balance sheet enggak bisa diapa-apain,” kata dia.
Nilai tukar rupiah terus melemah sepanjang tahun ini, sempat menembus level Rp 18.200 per dolar AS.
Pada penutupan pasar spot siang ini, rupiah berada di Rp 18.058 per dolar AS.
>>> Ekspor Kerajinan Indonesia Kuartal I 2026 Tembus Rp 2,97 Triliun
Opsi Pemotongan Anggaran Paling Mungkin
Menurut Chatib Basri, peningkatan pendapatan melalui perpajakan tidak mungkin diterapkan saat ini. Opsi penambahan utang juga sulit karena biaya dana yang mahal.
“Maka opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively,” jelasnya.
Solusi yang ditawarkan adalah rasionalisasi sektor fiskal yang dikombinasikan dengan pembenahan administrasi perpajakan. Namun, tantangan terbesar dari kebijakan ini adalah masalah ekonomi politik dan keterpilihan politik.
Ia mengutip pernyataan Jean-Claude Juncker: “We all know what to do, we just don't know how to get re-elected after we've done it.”
Chatib Basri juga mengutip Thomas Sowell dari Stanford. “Pelajaran pertama ekonomi adalah kelangkaan.
Tapi masalahnya, pelajaran pertama politik adalah bagaimana mengabaikan pelajaran pertama ekonomi,” katanya.
“Makanya kuncinya ada di political visibility. Is it possible?”
>>> Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Hentikan Operasi Militer ke Israel
tutup Chatib Basri.