⌂ Beranda News Chatib Basri Sarankan Pemerintah Berhemat demi Selamatkan APBN

Chatib Basri Sarankan Pemerintah Berhemat demi Selamatkan APBN

Chatib Basri Sarankan Pemerintah Berhemat demi Selamatkan APBN
Chatib Basri saat memberikan paparan dalam sebuah forum ekonomi
A A Ukuran Teks16px

Ekonom senior Chatib Basri menyarankan pemerintah untuk melakukan penghematan anggaran secara selektif guna menjaga keseimbangan APBN. Hal itu disampaikannya di tengah spekulasi perombakan jabatan Menteri Keuangan.

Chatib Basri bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (9/6/2026).

>>> DPR Sahkan UU Polri Baru, Atur Batas Usia Pensiun dan Penempatan Personel

Pertemuan tersebut membahas tantangan fiskal dan pengelolaan anggaran negara.

Mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini enggan merinci agenda pertemuan. Ia mengarahkan pertanyaan kepada Luhut Binsar Pandjaitan.

Kunjungan ke Istana bertepatan dengan rumor bahwa Chatib akan menggantikan Menteri Keuangan saat ini, Purbaya Yudhi Sadewa. Menanggapi spekulasi tersebut, Chatib menjawab singkat.

"Enggak tahu saya," kata Chatib Basri saat ditemui usai menghadiri Grab Business Forum 2026 di Jakarta.

Tiga Opsi Pengelolaan Fiskal

Dalam forum bisnis tersebut, Chatib menjelaskan secara teknis keterbatasan ruang lingkup kerja pengelola anggaran negara. Menurutnya, opsi strategis yang tersedia sangat mendasar.

"Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal.

Naikkan, potong, pinjam. Itu hanya tiga itu," kata Chatib Basri.

Ia memaparkan konsekuensi logis dari setiap pilihan instrumen keuangan negara. Jika satu opsi tidak dapat dieksekusi, pemerintah harus beralih ke opsi berikutnya.

"Kalau Anda tidak bisa naikkan, maka Anda harus potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda harus pinjam.

As simple as that," ujarnya.

Chatib menguraikan bahwa situasi ekonomi saat ini tidak mendukung opsi penaikan pajak maupun penambahan utang baru. Opsi pertama dinilai tidak realistis.

"Masa di dalam situasi ini tax revenue, tax-nya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga," katanya.

Ia juga menyoroti kelemahan opsi menarik pembiayaan baru dari luar negeri. Pengetatan moneter global membuat ongkos penambahan utang menjadi sangat mahal.

"Siapa yang mau pinjam uang sekarang, cost-nya akan jadi sangat mahal," ucapnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru