⌂ Beranda News BRIN Petakan Sesar Aktif Pulau Jawa untuk Mitigasi Gempa

BRIN Petakan Sesar Aktif Pulau Jawa untuk Mitigasi Gempa

BRIN Petakan Sesar Aktif Pulau Jawa untuk Mitigasi Gempa
Ilustrasi pemetaan sesar aktif di Pulau Jawa oleh BRIN
A A Ukuran Teks16px

Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN memetakan jalur sesar aktif di Pulau Jawa. Langkah ini bertujuan meningkatkan akurasi penilaian risiko bencana gempa.

Pemetaan dilakukan karena masih banyak ketidakpastian mengenai karakteristik sumber gempa daratan. Hal ini diungkapkan dalam lokakarya di Jakarta pada Senin (8/6).

>>> IATA Pertimbangkan Kunci Bagasi Kabin Saat Darurat Akibat Ulah Penumpang

Sistem sumber gempa di Pulau Jawa sangat kompleks.

Selain dipengaruhi zona subduksi di selatan, struktur geologi seperti Java Back-Arc Thrust dari Jakarta hingga Surabaya juga meningkatkan potensi bahaya di utara Jawa.

Peneliti Ahli Utama BRIN Danny Hilman Natawidjaja mengatakan pengetahuan tentang sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian.

Beberapa sesar sudah diketahui, namun karakteristik penting seperti laju pergeseran, segmentasi, dan magnitudo maksimum belum sepenuhnya dipahami.

Peta sesar aktif dan peta bahaya gempa nasional terus diperbarui secara dinamis. Tim peneliti memasukkan data baru yang masuk secara berkala.

Salah satu pemetaan detail terbaru dilakukan di kawasan Gunung Ciremai. Pemetaan ini untuk melihat perubahan segmentasi patahan pada skala lokal.

>>> Masyarakat Ramai Cari Kalender Juni 2026 untuk Rencana Liburan

Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak besar pada skala regional, tetapi signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal.

Ancaman dari pergerakan patahan aktif juga meliputi bahaya ikutan. Likuefaksi, longsor, dan rekahan permukaan tanah menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

Risiko keretakan tanah di permukaan sering belum diantisipasi dalam perencanaan infrastruktur vital. Bangunan dapat dirancang tahan guncangan gempa, tetapi sulit bertahan terhadap pergeseran tanah hingga beberapa meter.

Ketiadaan data detail koordinat sesar menjadi kendala utama penerapan zonasi aman. Negara seperti Jepang dan Selandia Baru sudah memberlakukan pembatasan ketat pembangunan di atas jalur sesar.

Danny menekankan bahwa risiko merupakan fungsi bahaya, paparan, dan kerentanan.

>>> Pemprov Sulsel Bebaskan Denda Pajak Kendaraan Bermotor hingga 50 Persen

Peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa, menjadi fondasi penilaian risiko yang lebih akurat.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru