Nilai tukar ditentukan oleh selisih inflasi dan suku bunga antara dua negara.
Kenaikan inflasi AS seharusnya menguatkan rupiah, sementara kenaikan inflasi Indonesia melemahkannya. Namun, dalam praktiknya, rupiah terus tertekan meski fundamental domestik baik.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor non-fundamental seperti home bias berperan besar.
Menurut Meese dan Rogoff (1983), fluktuasi nilai tukar tergantung pada indikator makro seperti pertumbuhan uang beredar, pertumbuhan ekonomi, suku bunga, neraca pembayaran, dan inflasi.
Namun, ketika fundamental baik, rupiah masih melemah.
Dampak Home Bias dan Langkah Antisipasi
Home bias memicu net outflow modal asing dari instrumen keuangan domestik. Akibatnya, rupiah terdepresiasi ekstrem, IHSG tertekan, dan yield surat berharga negara naik.
Pemerintah dan Bank Indonesia dapat mengambil tiga langkah. Pertama, mengurangi asimetri informasi antar pelaku pasar dengan biaya informasi yang rendah.
Kedua, menghilangkan hambatan regulasi investasi di dalam negeri sehingga tidak ada perbedaan aturan antara pasar domestik dan luar negeri (konvergensi regulasi).
Ketiga, menurunkan currency risk premium yang mempengaruhi persepsi risiko investor global.
>>> Polres Cilegon Tangkap Sembilan Pelaku Curanmor, Hasil Penjualan untuk Beli Sabu
Langkah-langkah tersebut diharapkan mendorong diversifikasi portofolio internasional, mengurangi risiko investasi, dan memperkuat integrasi keuangan global.