⌂ Beranda News Bengkel Dolland Ungkap Keunggulan Konversi Motor Listrik di Indonesia

Bengkel Dolland Ungkap Keunggulan Konversi Motor Listrik di Indonesia

Bengkel Dolland Ungkap Keunggulan Konversi Motor Listrik di Indonesia
Teknisi sedang memperbaiki motor listrik di bengkel umum
A A Ukuran Teks16px

Potensi konversi sepeda motor bensin menjadi kendaraan listrik di Indonesia masih sangat besar. Keunggulan utama terletak pada kemudahan perawatan dan ketersediaan suku cadang.

Pemilik bengkel Dolland Motor Electric di Bekasi, Abdullah, menjelaskan bahwa penggunaan basis motor Jepang memberikan keuntungan besar. Jaringan komponennya telah terbentuk selama puluhan tahun.

>>> Prabowo Tetap Pakai Pindad Maung Meski Bocor, Ini Alasannya

"Motor Jepang yang kita pakai kan seperti itu. Motor-motor Jepang di Indonesia punya ketersediaan spare part yang melimpah.

Mulai dari body part sampai perintilan yang sulit dicari sekalipun," kata Abdullah.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan motor listrik murni yang masih mengandalkan komponen khusus. Beberapa komponen motor listrik yang langka bahkan membutuhkan waktu pengadaan lama.

"Kalau di motor listrik, komponen yang susah dicari bisa sampai satu bulan," ujar Abdullah.

Kemudahan pencarian suku cadang motor konvensional asal Jepang menjadi daya tarik utama. Hal ini memangkas waktu tunggu perbaikan secara signifikan.

"Tapi kalau di motor-motor Jepang, seperti Honda, Yamaha, Kawasaki, dan lain-lain, sesulit apa pun biasanya paling lama seminggu sudah ketemu suku cadangnya," kata Abdullah.

Dua Sistem Baterai untuk Konversi

Selain suku cadang, proses konversi dipandang efektif untuk mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan. Namun, Abdullah mengingatkan perlunya tata kelola baterai yang terintegrasi.

"Jadi, kalau konversi sebenarnya bagus untuk dijalankan. Tapi, sistem baterainya itu jangan dilepas begitu saja.

>>> Penjualan Sepeda Motor Nasional Turun 7,9 Persen pada Mei 2026

Saat ini kan sudah dikasih baterai, lalu terserah pengguna mau diapakan baterainya," kata Abdullah.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Abdullah menyarankan penerapan dua sistem manajemen daya sekaligus. Penggabungan metode ini dinilai bisa mengakomodasi perbedaan karakteristik operasional.

"Kalau konversi, saran saya tetap pakai dua sistem, yaitu swap dan baterai tanam," ujar Abdullah.

Sistem penukaran baterai atau battery swap dianggap lebih ideal untuk motor berkapasitas mesin kecil. Jenis kendaraan tersebut umumnya digunakan untuk mobilitas harian jarak dekat.

"Swap itu untuk cc (kubikasi) kecil yang tidak membutuhkan kecepatan tinggi atau tenaga besar," kata Abdullah.

Sebaliknya, motor dengan kubikasi mesin di atas 150 cc membutuhkan pasokan daya lebih besar. Untuk kategori ini, sistem baterai tanam yang diisi ulang secara mandiri dinilai lebih tepat.

"Sementara baterai tanam seperti yang digunakan Polytron diperuntukkan bagi motor-motor besar, yang kapasitas mesinnya 150 cc ke atas," kata Abdullah.

Penerapan pengisian daya langsung pada baterai berkapasitas besar diproyeksikan mampu memberikan jarak tempuh lebih jauh. Diferensiasi teknologi penyimpanan daya diharapkan mendorong pertumbuhan ekosistem konversi secara nasional.

>>> Militer Iran Ancam Balas Serangan Udara AS dengan Tindakan Tegas

"Motor tersebut diberikan baterai berkapasitas besar dan bukan tipe swappable, melainkan menggunakan sistem charging. Dengan begitu, ekosistem konversi akan tumbuh," kata Abdullah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru