Suasana sepi menyelimuti fasilitas perakitan dan penyimpanan Emmo Electric Mobility di kawasan Bogorindo, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kompleks yang menjadi sorotan terkait pengadaan sepeda motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini tampak lengang dari kegiatan operasional.
>>> Tiga Mantan Pejabat Kemendag Didakwa Rugikan Negara Rp 39,4 Miliar
Pemantauan di lapangan menunjukkan tidak adanya aktivitas produksi, penyaluran, maupun pergerakan kendaraan logistik yang keluar masuk area tersebut.
Gerbang utama fasilitas industri ini juga tertutup rapat bagi umum.
Di balik pagar, ribuan unit motor listrik terparkir di area terbuka.
Sebagian kendaraan roda dua tersebut berjejer rapi dengan lapisan plastik pelindung pabrik, sementara sebagian lainnya ditutupi jaring hitam dan terpal.
Mayoritas sepeda motor yang berada di lokasi tampak dalam kondisi baru dan belum pernah digunakan. Deretan motor listrik diparkir memanjang mengikuti tembok pembatas kawasan industri Bogorindo.
Pemandangan serupa terlihat pada area belakang fasilitas yang memiliki lahan penyimpanan luas.
Melalui sela-sela jaring peneduh, tampak bagian setang, panel instrumen, dan bodi motor yang masih terbungkus rapi oleh plastik pelindung.
>>> Said Iqbal Temui Wamenaker Bahas Revisi Regulasi Alih Daya
Seluruh unit kendaraan roda dua tersebut telah dipasangi stripping khusus dengan logo MBG pada bagian sisinya.
Beberapa unit yang hanya terlindungi terpal tampak dipenuhi tumpukan daun kering, memberi kesan telah lama berada di lokasi tersebut.
Keberadaan ribuan motor listrik yang tertahan di lokasi ini mulai memicu perhatian publik setelah mencuatnya polemik pengadaan kendaraan operasional program MBG.
Motor listrik merek Emmo disiapkan untuk menunjang operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Proses pengadaan tersebut mengundang kontroversi akibat dugaan penyimpangan dalam sistem dan jalurnya.
Pengadaan kendaraan operasional, yang meliputi model JVX Max dan JVX GT, mencakup 21.800 unit dengan nilai anggaran mencapai lebih dari Rp 1 triliun.
Isu ini kian bergulir setelah aparat penegak hukum mulai melakukan penelusuran terhadap keabsahan proses pengadaan unit tersebut.
>>> Imigrasi Bali Tangkap Buronan Interpol Australia di Bandara
Kondisi hukum yang berjalan membuat nasib ribuan motor listrik yang telah selesai diproduksi menjadi tidak pasti.