⌂ Beranda News Hasto Usulkan Prabowo Gunakan Geopolitik Sukarno Atasi Konflik Global

Hasto Usulkan Prabowo Gunakan Geopolitik Sukarno Atasi Konflik Global

Hasto Usulkan Prabowo Gunakan Geopolitik Sukarno Atasi Konflik Global
Hasto Kristiyanto mengusulkan Prabowo menggunakan geopolitik Sukarno untuk atasi konflik global
A A Ukuran Teks16px

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto menerapkan pemikiran geopolitik Presiden pertama RI Sukarno untuk mengatasi berbagai konflik global saat ini.

Gagasan tersebut disampaikan Hasto dalam kuliah umum peringatan ulang tahun ke-27 Universitas Bung Karno (UBK) di Jakarta pada Kamis (11/6/2026).

>>> Jadwal Fase Grup Piala Dunia 2026 Resmi Dirilis: 12 Juni - 28 Juni

Hasto menilai kerangka berpikir atau siklus geopolitik Sukarno sangat relevan bagi Presiden Prabowo untuk memosisikan Indonesia sebagai fasilitator perdamaian dunia, terutama di kawasan Timur Tengah.

"Kalau Presiden Prabowo berkehendak menjadikan Indonesia sebagai peace facilitator untuk masalah Timur Tengah, ini (Siklus Geopolitik Soekarno) bisa dipakai," ujar Hasto Kristiyanto.

Penerapan pemikiran geopolitik Bung Karno dinilai bergerak melalui siklus sistematis yang terukur untuk menghadapi dinamika kawasan.

Siklus tersebut diawali dengan perumusan kepentingan nasional yang jelas, dilanjutkan keterlibatan global membina hukum internasional baru lewat diplomasi luar negeri, serta diperkuat diplomasi pertahanan sebagai daya tangkal.

"Siklus ini terus berputar.

Kita menciptakan hukum internasional dengan pendekatan diplomasi kita, membangun kerja sama internasional, hingga akhirnya diplomasi pertahanan strategis memperkuat postur pertahanan kita," tambah Hasto.

Pendekatan berbasis keilmuan geopolitik ini dipandang tidak hanya efektif untuk Timur Tengah, melainkan juga berpotensi meredakan ketegangan di Semenanjung Korea serta Selat Taiwan.

Keterlibatan aktif tersebut ditegaskan harus tetap berlandaskan pada keuntungan serta kepentingan nasional Indonesia sendiri.

>>> PT Aspirasi Hidup Indonesia Bagikan Dividen Tunai Rp548 Miliar

"Kita mau menyelesaikan konflik di Semenanjung Korea, kita bisa menggunakan siklus ini. Melalui langkah diplomasi tersebut, kepentingan nasional kita juga diuntungkan," papar Hasto.

Selain itu, langkah taktis lain yang disarankan adalah menginisiasi konferensi internasional baru yang terencana matang layaknya pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955.

Pertemuan berskala internasional ini diproyeksikan sebagai wadah mediasi konflik yang digerakkan langsung oleh Indonesia.

"Bagaimana konferensi tersebut direncanakan secara detail.

Bung Karno dulu merencanakan KAA dengan sangat matang, melibatkan semua elemen termasuk mahasiswa untuk melayani delegasi dengan hormat.

Itu adalah bagian dari the art of diplomacy kita," ucap Hasto.

Perencanaan yang detail dinilai krusial agar seluruh delegasi negara yang hadir merasa dihormati selama forum berlangsung.

>>> IHSG 11 Juni 2026 Ditutup Melemah ke 5.886 Akibat Sektor Barang Baku

Hal tersebut diharapkan mampu melahirkan kesepakatan-kesepakatan perdamaian yang memiliki legitimasi kuat serta diakui oleh masyarakat internasional.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru