Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 masih mengalami kontraksi. Namun, tekanan pada sektor tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal itu tercermin dalam Survei Penjualan Eceran (SPE) BI. Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 diprakirakan berada di angka 225.
>>> Pemerintah dan DPR Sepakat Naikkan Batas Bawah Pendapatan Negara 2027
Secara tahunan, IPR Mei 2026 diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 3,2 persen. Catatan ini lebih baik dari April 2026 yang terkontraksi 3,7 persen secara tahunan.
Peningkatan penjualan pada beberapa kategori komoditas menjadi faktor pendorong perbaikan kinerja penjualan riil. Kategori tersebut meliputi perlengkapan rumah tangga lainnya, suku cadang dan aksesori, serta kelompok barang lainnya.
Penjualan suku cadang dan aksesori diproyeksikan tumbuh 16,6 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Sementara itu, perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 1,8 persen, dan barang lainnya naik 0,7 persen.
Secara bulanan, penjualan eceran Mei 2026 masih diprakirakan terkontraksi 0,9 persen.
Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan April 2026 yang anjlok 11,6 persen setelah momentum Ramadan dan Idul Fitri.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2026).
Aktivitas belanja masyarakat belum kembali sepenuhnya ke tingkat saat Ramadan dan Idul Fitri. Momentum hari raya tersebut sebelumnya menjadi motor penggerak utama konsumsi publik pada Maret 2026.
BI mencatat IPR untuk April 2026 berada di level 226,9.
>>> Siswi SMAN 91 Jakarta Juarai Youth ESG Maritime Innovation Challenge 2026
Beberapa kelompok komoditas tetap mencatatkan pertumbuhan dan menjadi penopang penjualan eceran, seperti budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori, serta perlengkapan rumah tangga lainnya.
Secara bulanan, penjualan eceran April 2026 merosot 11,6 persen. Padahal, pada Maret 2026 penjualan eceran sempat mencatat pertumbuhan positif 10,3 persen.
Penurunan tersebut dinilai BI sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah berakhir.
Optimisme terhadap prospek usaha untuk beberapa bulan ke depan masih dipertahankan pelaku usaha ritel.
Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk tiga bulan mendatang atau Juli 2026 naik menjadi 138,3 dari 136,8 pada periode sebelumnya.
IEP untuk enam bulan ke depan atau Oktober 2026 juga meningkat ke angka 149,4 dari posisi sebelumnya 137,8.
Mengenai pergerakan harga, BI memproyeksikan tekanan inflasi tiga bulan mendatang relatif stabil. Namun, ekspektasi harga untuk enam bulan ke depan menunjukkan kecenderungan meningkat.
Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Oktober 2026 tercatat menyentuh level 167,6. Angka ini lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 yang berada di posisi 163,2.
>>> Timnas Indonesia Naik Empat Peringkat di Ranking FIFA Juni 2026
BI mengonfirmasi bahwa tren kenaikan ekspektasi harga tersebut didorong oleh lonjakan harga bahan baku.