⌂ Beranda News BAKTI Komdigi Beberkan Biaya Tinggi dan Keterbatasan Bandwidth di Wilayah 3T

BAKTI Komdigi Beberkan Biaya Tinggi dan Keterbatasan Bandwidth di Wilayah 3T

BAKTI Komdigi Beberkan Biaya Tinggi dan Keterbatasan Bandwidth di Wilayah 3T
Menara BTS di wilayah terpencil Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi mengungkapkan tantangan besar dalam pembangunan jaringan telekomunikasi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, menjelaskan bahwa biaya operasional untuk mendukung satu BTS di daerah 3T bisa mencapai Rp30 juta per bulan.

>>> Mendikdasmen Genjot Revitalisasi 71.744 Sekolah pada Tahun 2026

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan biaya operasional BTS di perkotaan yang hanya berkisar Rp15-20 juta per bulan.

Perbedaan biaya ini disebabkan oleh ketergantungan pada konektivitas satelit di wilayah 3T.

Di perkotaan, operator seluler menggunakan serat optik dengan kapasitas besar dan biaya operasional rendah, serta skala ekonomi yang menguntungkan dari jumlah pelanggan yang masif.

"Kalau di daerah-daerah 3D, karena tidak ada optik, tidak bisa pakai microwave, mereka mau gak mau harus pakai satelit.

Cost-nya jadi tinggi," ujar Darien Aldiano.

Keterbatasan Bandwidth Satelit VSAT

Selain biaya tinggi, kapasitas bandwidth menjadi kendala utama di wilayah 3T.

Rata-rata kapasitas BTS yang menggunakan VSAT saat ini maksimal 12 Mbps.

>>> Korea Selatan Kalahkan Ceko 2-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

"Dengan 12 Mbps, satu orang yang menggunakan aplikasi seperti TikTok atau YouTube bisa menghabiskan 1 Mbps. Bayangkan jika 100 orang mengakses secara bersamaan, pasti lemot," jelas Darien.

Ketiadaan jaringan serat optik maupun microwave membuat infrastruktur di wilayah 3T sepenuhnya bergantung pada stasiun penerima dan pemancar sinyal satelit.

Darien menambahkan bahwa karakteristik BTS di daerah terpencil sangat berbeda dengan BTS di perkotaan.

"BTS itu tidak serta-merta dibangun tower, kemudian kencang. Dari tower itu harus punya dapurnya, yaitu koneksi di belakang atau backhaul.

Kalau tidak ada di daerah tersebut, mau tidak mau pakai VSAT," paparnya.

Intervensi pemerintah dinilai krusial karena banyak lokasi terluar yang tidak bernilai komersial bagi operator seluler swasta.

"Secara bisnis ini belum masuk ke tataran komersil, jadi di situlah BAKTI hadir, negara hadir untuk memberikan layanan kepada masyarakat," tegas Darien.

>>> Korea Selatan Kalahkan Ceko 2-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Keberadaan infrastruktur BAKTI Komdigi diharapkan dapat memangkas kesenjangan konektivitas digital bagi masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru