⌂ Beranda News Bank Dunia Soroti Subsidi BBM Indonesia yang Tidak Tepat Sasaran

Bank Dunia Soroti Subsidi BBM Indonesia yang Tidak Tepat Sasaran

Bank Dunia Soroti Subsidi BBM Indonesia yang Tidak Tepat Sasaran
Ilustrasi subsidi BBM Indonesia disorot Bank Dunia
A A Ukuran Teks16px

Bank Dunia menyoroti inefisiensi alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang dinilai tidak tepat sasaran. Hal ini membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 mengungkapkan separuh dari total subsidi justru dinikmati kelompok masyarakat mampu. Kondisi ini semakin memburuk saat terjadi kenaikan harga minyak mentah global.

>>> Putri Kerajaan Thailand Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usai Koma 3,5 Tahun

Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada penyusutan ruang fiskal negara. Akibatnya, dana yang harus dialokasikan untuk menambal subsidi semakin besar.

"Lonjakan harga minyak global mengungkap beban fiskal dan kelemahan dari penargetan subsidi BBM, di mana 20% rumah tangga terkaya justru menerima setengah dari total subsidi BBM," tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (12/6/2026).

Porsi anggaran belanja publik untuk sektor energi ini tercatat sangat fluktuatif. Angka tersebut mencapai 1,6 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Rekomendasi Reformasi Subsidi BBM

Bank Dunia menyodorkan tiga paket langkah reformasi kebijakan untuk membenahi sistem fiskal. Tahap pertama adalah penyesuaian harga BBM bersubsidi secara gradual untuk memangkas selisih dengan harga pasar.

>>> Wamensos Targetkan Sekolah Rakyat Permanen Lampung Timur Beroperasi Juli

Langkah kedua diikuti dengan penyaluran bantuan langsung tunai bagi 40 persen rumah tangga termiskin. Estimasi kebutuhan dana bulanan hanya sebesar 10 persen dari total penghematan energi.

Pemodelan menunjukkan penyesuaian bertahap selama dua tahun ke depan mampu menghemat kas negara sebesar 1,3 persen dari PDB.

Potensi penghematan bisa melonjak hingga 2,1 persen setelah skema harga baru diterapkan penuh.

>>> BAKTI Komdigi Beberkan Biaya Tinggi dan Keterbatasan Bandwidth di Wilayah 3T

"Implementasi sama pentingnya dengan desain implementasi berurutan secara bertahap, komunikasi publik yang jelas, kesiapan sistem pelaksanaan melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi (DTSEN) dan perhitungan yang transparan bagaimana penghematan subsidi BBM akan diinvestasikan kembali," tulis Bank Dunia.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru