"Washington ingin India mengurangi surplus perdagangannya dengan AS, dan peningkatan impor energi mungkin merupakan cara terbaik untuk melakukannya," kata Bineet Banka, Analis riset ekuitas sektor energi Nomura India.
Laporan perusahaan sekuritas global Nomura pada Rabu (10/6/2026) mencatat ekspor energi Amerika Serikat ke India melonjak delapan kali lipat dari tingkat sebelum perang.
Meskipun harganya lebih mahal, "India tidak punya banyak opsi," ujar Bineet Banka.
Guna menutup hilangnya pasokan dari Qatar dan Uni Emirat Arab, lima perusahaan pelat merah India termasuk Indian Oil Corp dan Gujarat State Petroleum Corp menerbitkan tender pembelian kargo LNG pasar spot.
Pengiriman dijadwalkan pada Juni dan Juli 2026.
Pembelian di pasar spot ini memicu pembengkakan biaya karena harganya mencapai 18 hingga 19 dollar AS per MMBtu (sekitar Rp323.622 hingga Rp341.601).
Angka itu jauh di atas harga kontrak jangka panjang sebesar 13 dollar AS per MMBtu (sekitar Rp233.727).
Langkah ini diambil demi memenuhi lonjakan konsumsi listrik akibat gelombang panas ekstrem serta kebutuhan pabrik pupuk urea menjelang musim tanam padi.
>>> Hwang In-beom Bawa Korea Selatan Kalahkan Ceko di Piala Dunia 2026
Data pemerintah India mencatat produksi listrik berbasis gas pada pekan pertama Juni 2026 melesat ke angka 651 juta unit, dari sebelumnya hanya 383 juta unit pada Mei 2026.