⌂ Beranda News Bukan Ideologi, Tekanan Karier Dorong Orang Biasa Jadi Pembunuh Nazi

Bukan Ideologi, Tekanan Karier Dorong Orang Biasa Jadi Pembunuh Nazi

Bukan Ideologi, Tekanan Karier Dorong Orang Biasa Jadi Pembunuh Nazi
Foto Waldemar Klingelhöfer di pengadilan kejahatan perang Nazi
A A Ukuran Teks16px

"Mengapa diktator mengandalkan orang bodoh?" tanya Göbel.

Analisis menunjukkan militer Argentina beroperasi sebagai lembaga meritokrasi. Yang berkinerja baik naik pangkat, yang buruk dipecat.

Polisi rahasia menjadi jalan pintas bagi yang berkinerja buruk untuk menyelamatkan karier. Mereka menghabiskan beberapa tahun di polisi rahasia, lalu mendapat posisi bergaji lebih tinggi.

Semakin besar tekanan, semakin besar kemungkinan mereka melakukan penyiksaan dan pembunuhan. Göbel menyebut ini efek samping meritokrasi yang melahirkan pemenang dan pecundang.

"Para pecundang merupakan sumber daya manusia yang dapat dimanfaatkan otokrat," katanya.

Peneliti juga meneliti kasus individu di Nazi Jerman. Banyak anggota Einsatzgruppen adalah amatir tanpa pengalaman kepolisian, seperti pengacara, profesor, dokter gigi, dan pendeta Ernst Biberstein.

Mereka merasa perlu membuktikan diri. Pemimpin Nazi seperti Heydrich dan Himmler sengaja memanfaatkan dinamika ini dengan menciptakan iklim persaingan.

Meski demikian, ideologi tetap berperan. Klingelhöfer telah bergabung dengan asosiasi antisemitisme pada 1920 dan menerbitkan buku tentang pengaruh Yahudi.

>>> Raul Jimenez Cetak Gol Perdana Piala Dunia Sambil Tangisi Kepergian Sang Ayah

Namun, tekanan karier menjadi faktor dominan yang mendorong orang biasa melakukan kejahatan ekstrem.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru