Peneliti senior Pusat Penelitian Asia Universitas Indonesia (UI), Endah Triastuti, menyoroti adanya ketimpangan akses teknologi internet yang masih terjadi di masyarakat luas.
Hal ini disampaikannya di tengah pesatnya perkembangan era kecerdasan buatan (AI).
>>> Sparta Rotterdam Jajaki Kontrak Ragnar Oratmangoen Usai Dilepas FCV Dender
Ia menyatakan bahwa kesenjangan infrastruktur internet dasar masih meminggirkan komunitas di wilayah terpencil. Sementara itu, masyarakat perkotaan dapat mengakses teknologi dengan sangat mudah.
Kesenjangan ini dipandang sebagai bentuk pengucilan digital yang bersifat struktural, berdasarkan pengalaman studi doktoralnya di Australia. Triastuti menyadari bahwa banyak orang belum pernah benar-benar memasuki dunia digital.
Selain ketimpangan infrastruktur, riset Triastuti terhadap kelompok rentan di Indonesia menunjukkan pemanfaatan teknologi secara swadaya.
Ia menemukan perempuan penderita HIV menggunakan blog anonim untuk berbagi informasi medis dan menguatkan komunitas.
Temuan tersebut mendasari kritik Triastuti terhadap validitas analisis yang hanya bersandar pada data besar di dunia maya.
Menurutnya, realitas sosial sering kali tidak terwakili oleh aktivitas di jejaring sosial.
Ia menekankan pentingnya pergeseran fokus literasi digital dari sekadar pengajaran kecakapan teknis ke arah pendekatan sosial.
>>> Kejagung Tahan Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal Terkait Korupsi Makan Bergizi Gratis
Faktor usia, kondisi kesehatan, dan dukungan lingkungan sosial menjadi krusial seiring migrasi layanan perbankan dan kesehatan ke platform digital.
Penipuan dan misinformasi tidak hanya menargetkan kurangnya pengetahuan, tetapi juga kesepian, ketakutan, dan rasa tidak aman.
Pendampingan dari pihak keluarga serta komunitas dinilai mutlak diperlukan agar pengguna dari kelompok lanjut usia tidak terisolasi.
Praktik baik di China menunjukkan bahwa kombinasi fitur ramah lansia dan bantuan langsung di lapangan memberikan dampak positif.
Pengajaran tatap muka terbukti efektif.
Sistem digital masa depan dituntut untuk lebih inklusif dengan mempertimbangkan proteksi bagi kelompok yang paling rentan tertinggal.
>>> Kejagung Ungkap Dugaan Korupsi Pengadaan Motor Listrik Badan Gizi
Pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah orang dapat mengakses internet, tetapi apakah sistem digital dirancang dengan memperhatikan mereka yang paling berisiko tertinggal.