Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mempercepat perampingan jumlah BUMN dari 1.077 entitas menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan.
Langkah ini diumumkan pada Kamis (12/6/2026).
>>> Menko Muhaimin Minta Program Makan Bergizi Gratis Prioritaskan Daerah 3T
Kebijakan tersebut bertujuan menekan inefisiensi dan kerugian tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja massal. Rencana penggabungan korporasi negara ditargetkan selesai pada tahun ini.
Berdasarkan temuan Danantara, sekitar 52 persen dari total BUMN saat ini berada dalam kondisi merugi. Akumulasi kerugian mencapai Rp20 triliun akibat maraknya praktik transaksi berlapis.
Transformasi Tanpa PHK
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menegaskan bahwa proses transformasi ini dijalankan sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.
Seluruh karyawan dari perusahaan yang terdampak konsolidasi akan dialihkan ke entitas hasil penggabungan.
"Pastinya Bapak Presiden tidak ingin ada PHK," tegas Dony dalam keterangan pers yang dirilis Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Kamis (12/6/2026).
Menurut penjelasan Dony, penataan struktur klaster BUMN berpotensi menghasilkan penghematan biaya operasional secara langsung hingga Rp50 triliun per tahun.
Penghematan ini bersumber dari pemangkasan rantai transaksi internal yang tidak produktif antara induk, anak, hingga cicit perusahaan.
"Selama ini kita membiasakan layering transaction antara induk ke anak-anak, ke cucu-cucu, ke cicit, yang menyebabkan inefisiensi. Kurang lebih inefisiensinya itu Rp 30 triliun," kata Dony.
>>> Prabowo Dorong Nasionalisme Ekonomi di Munas HIPMI
Salah satu langkah konkret pemangkasan birokrasi dilakukan melalui integrasi PT Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping (PIS).
Danantara juga menemukan pola pemborosan serupa pada proyek jaringan serat optik di lingkungan Telkom Group.
Apabila penyederhanaan ini berhasil mengerucutkan jumlah BUMN hingga tersisa 254 entitas, Danantara memastikan perolehan dana efisiensi tetap optimal.
Manajemen memilih opsi mempertahankan SDM karena beban gaji tahunan jauh lebih kecil daripada proyeksi penghematan dari konsolidasi.
"Kita hitung, kalau dari perusahaan-perusahaan yang kita streamlining ini, berapa sih biaya tenaga kerjanya setahun? Ternyata cuma Rp 2-3 triliun," jelas Dony.
Melalui kalkulasi matematis tersebut, Danantara menilai kebijakan mempertahankan seluruh tenaga kerja jauh lebih menguntungkan secara ekonomi.
Anggaran efisiensi yang tersisa nantinya dapat dialokasikan kembali untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan hasil merger.
>>> Kapal Aceh Hebat 2 Meledak di Pelabuhan Ulee Lheu, 14 Orang Terluka
"Jadi saya berpikir, kalau gitu saya ambil saja semua karyawannya, saya masih hemat Rp 47 triliun," kata Dony.