Kawasan kaki Gunung Prau di Desa Patakbanteng, Wonosobo, sempat kehilangan sebagian tutupan hutan akibat krisis moneter 1997. Tekanan ekonomi mendorong warga membuka hutan lindung untuk lahan pertanian.
Kepala Desa Wisata Patakbanteng Solichun mengatakan, perubahan itu langsung berdampak pada ketersediaan air. Debit mata air berkurang drastis setelah hutan tergeser.
>>> AS Tempatkan Skuadron Kapal Selam Nuklir di Australia pada 2026
Solichun memperkirakan debit mata air di kaki Gunung Prau turun hingga 50 persen. Akibatnya, kawasan tersebut semakin rawan kebakaran hutan saat kemarau.
Kondisi mulai berubah setelah jalur pendakian Gunung Prau melalui Desa Patakbanteng ramai diberitakan pada 2012. Wisatawan mulai berdatangan.
Kini, jumlah pendaki saat akhir pekan bisa mencapai lebih dari 50 orang. Warga memanfaatkan momentum itu untuk memulihkan lingkungan.
Sejumlah warga membentuk kelompok peduli lingkungan dan mengelola jalur pendakian. Pendapatan dari pengelolaan digunakan untuk membeli bibit pohon dan membangun perpustakaan.
Desa Patakbanteng kini memiliki rumah bibit tanaman endemik Gunung Prau. Bibit tersebut ditanam kembali di lahan yang sempat dirambah.
"Ada persentase uang yang kami dapat dari gunung, untuk kembali ke gunung," ujar Solichun.
Pemulihan lingkungan digencarkan setiap tiga bulan pertama pada awal tahun. Pendakian ke puncak Gunung Prau biasanya ditutup dalam periode tersebut karena cuaca.
Warga memanfaatkan masa penutupan untuk menanam kembali hutan yang pernah hilang. "Kami tanam tanaman lokal pengendali erosi," kata Solichun.
>>> 5 Zodiak Paling Beruntung pada Pekan 15-21 Juni 2026
Inisiatif itu perlahan memperbaiki tutupan hutan. Debit mata air juga disebut mulai membaik.
Perbaikan lingkungan desa turut didukung pendampingan program Bakti BCA. VP CSR BCA Nona Faletta Aryuni mengatakan, pendampingan dilakukan melalui tiga fase.
Fase pertama berupa penyusunan desain pendampingan untuk memperkuat potensi desa. "Kita gali gap potensi yang ada," kata Nona.
Fase kedua berupa penguatan kelembagaan dan sumber daya alam. Fase ini juga mencakup pembangunan kemitraan untuk pemberdayaan desa.
Fase terakhir diarahkan untuk memperluas pasar produk yang dihasilkan desa mitra. Dengan skema tersebut, usaha desa binaan diharapkan tetap berjalan setelah pendampingan selesai.
Melibatkan Generasi Muda
Program Bakti BCA juga akan melibatkan kampus melalui kegiatan pengabdian masyarakat.
VP Corporate Communication BCA Mas Wendiyanto Saputro mengatakan, mahasiswa mitra akan tinggal di desa binaan mulai Juli 2026.
"Mahasiswa yang sudah dikurasi, selama satu bulan akan mencarikan solusi dari berbagai issue yang ada," sebut Wendiyanto.
>>> Airlangga Hartarto Ungkap Ketangguhan Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global
Salah satu solusi yang diharapkan adalah pengembangan dan perluasan akses pasar bagi produk desa.