China resmi mengoperasikan pusat data bawah laut bertenaga angin pertama di dunia, Shanghai Lingang Undersea Data Center. Fasilitas ini mulai beroperasi pada Mei 2026.
Pusat data tersebut berlokasi sekitar 10 kilometer dari pesisir Shanghai. Server terendam pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut.
>>> Skotlandia Bersiap Hadapi Haiti dalam Pembukaan Grup C Piala Dunia 2026
Proyek ini menelan investasi sekitar 1,6 miliar yuan atau setara Rp 4,2 triliun. Pembangunannya merupakan kerja sama antara HiCloud Technology dan China Communications Construction.
Berbeda dari pusat data konvensional, fasilitas ini memanfaatkan air laut sebagai pendingin alami. Pasokan listriknya berasal dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di dekat lokasi.
Kapasitas daya yang dihasilkan mencapai 24 megawatt. Jumlah energi ini setara dengan kebutuhan listrik untuk ribuan rumah tangga.
Keunggulan dan Efisiensi Energi
Efisiensi energi menjadi faktor utama pemindahan fasilitas ke dalam laut. Pada pusat data konvensional, sekitar 25 hingga 40 persen listrik habis untuk sistem pendingin server.
Suhu alami air laut membantu membuang panas dari server secara langsung. Pendekatan ini diklaim mampu memangkas konsumsi listrik lebih dari 20 persen dibanding fasilitas di darat.
Langkah ini juga menghemat kebutuhan air tawar yang biasanya dipakai sistem pendingin. Konsumsi air global untuk pusat data diperkirakan mencapai 9,3 triliun liter pada 2030.
Konsep pusat data bawah laut sebelumnya diuji oleh Microsoft melalui proyek Natick di Skotlandia pada 2018. Namun, proyek tersebut tidak berlanjut ke tahap komersial.
China telah mengoperasikan pusat data bawah laut komersial pertamanya di Pulau Hainan sejak 2023.
>>> Jerman Hadapi Curacao di Laga Perdana Grup E Piala Dunia 2026
Fasilitas terbaru di Shanghai menjadi yang pertama memadukan pusat data bawah laut dengan energi angin lepas pantai.
Peneliti Hong Kong Polytechnic University, Hanjiang Dong, menilai keberhasilan China disebabkan oleh tingginya permintaan pasar, kemampuan industri, rekayasa kelautan, dan dukungan pemerintah.
China menempatkan AI sebagai pilar penting strategi ekonomi.
Pada 2025, pemerintah China merilis rencana aksi AI nasional untuk mempercepat infrastruktur komputasi AI generatif. Pemerintah juga menargetkan peningkatan pasokan energi bersih untuk infrastruktur AI sebelum 2030.
Antisipasi Dampak Lingkungan
Meskipun menguntungkan, para ahli mengingatkan potensi dampak negatif terhadap ekosistem laut. Risiko yang diwaspadai adalah gangguan sedimen dasar laut dan kenaikan suhu air di sekitar fasilitas.
Para peneliti memprediksi dampak tersebut hanya bersifat lokal. Masalah ini dinilai masih dapat dikelola lewat pemantauan berkelanjutan.
Profesor biologi kelautan Bournemouth University, Rick Stafford, mengatakan peningkatan suhu akibat data center bawah laut kemungkinan tidak akan menyebar jauh dari lokasi.
>>> Turki Hadapi Australia pada Laga Pembuka Grup D Piala Dunia 2026
Konsep ini dipandang sebagai solusi strategis untuk mengurangi jejak energi dan air dari ekspansi infrastruktur AI yang terus tumbuh cepat.
