⌂ Beranda News Mahalnya Harga Sebuah Kepercayaan di Sektor Keuangan

Mahalnya Harga Sebuah Kepercayaan di Sektor Keuangan

Mahalnya Harga Sebuah Kepercayaan di Sektor Keuangan
Ilustrasi krisis kepercayaan di sektor keuangan negara berkembang
A A Ukuran Teks16px

Mesir: Modal Kembali tapi Belum Aman

Mesir juga mengalami tekanan sejak 2022 akibat perang Ukraina, keluarnya dana portofolio, dan kelangkaan valuta asing.

Pada Maret 2024, Mesir membiarkan kurs lebih fleksibel, menaikkan suku bunga 600 basis poin, dan menerima perluasan program IMF menjadi 8 miliar dolar AS.

Arus modal mulai kembali, termasuk ke surat utang domestik. Namun IMF mencatat pada 2026, kepemilikan nonresiden atas surat utang lokal Mesir banyak pada instrumen jangka pendek.

Artinya, uang bisa kembali saat imbal hasil menarik, tetapi tetap bisa pergi bila rasa aman belum pulih.

Benang Merah: Kepercayaan Butuh Konsistensi

Dari Turki, Argentina, Sri Lanka, hingga Mesir, benang merahnya sama. Investor pergi ketika negara tidak dikelola dengan jujur, konsisten, dan masuk akal.

Mereka pergi ketika institusi mudah ditekan, dan ketika kebijakan hari ini menyenangkan sesaat tetapi menyimpan biaya besar di masa depan.

Ketika pasar tidak percaya, mata uang melemah, beban impor naik, biaya pendanaan meningkat, dan ruang belanja negara menyempit.

Kepercayaan tidak berhenti di ruang investor, tetapi menetes hingga ke dapur rumah tangga: pada harga pangan, cicilan, dan nilai tabungan.

Pemerintah bisa punya niat baik, tetapi niat baik tidak cukup bila arah kebijakan mudah berubah, komunikasi tidak rapi, atau keputusan hari ini hanya memindahkan beban ke masa depan.

>>> Warga Tetap Padati Bundaran HI Meski CFD Ditiadakan

Kepercayaan bisa hilang secara cepat. Untuk membangunnya kembali, negara sering harus membayar dengan waktu yang panjang.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru