Tradisi unik anak-anak mendampingi pemain sepak bola saat memasuki lapangan hijau telah menjadi pemandangan umum dalam berbagai kompetisi, termasuk Piala Dunia 2026.
Anak-anak ini dikenal sebagai player escort atau maskot anak.
>>> Dishub DKI Siapkan 6 Kantong Parkir untuk Jakarta Fair 2026
Kehadiran mereka di lapangan ternyata memiliki sejarah tersendiri dan memuat misi penting bagi dunia anak-anak.
Sebelum era 1990-an, para pemain sepak bola biasanya masuk ke lapangan tanpa didampingi oleh anak-anak.
Maskot anak mulai terlihat pada pertengahan era 1990-an dalam laga derby antara Liverpool melawan Everton. Saat itu, Wayne Rooney muda menjadi pendamping dari pihak Everton.
Namun, tradisi ini belum familiar dan tidak diterapkan di semua pertandingan.
Perkembangan global baru terjadi menjelang Piala Dunia 2002, ketika FIFA dan UNICEF berkolaborasi dalam kampanye 'Say Yes For Children'.
Gerakan ini bertujuan mempromosikan dan melindungi hak-hak dasar anak, khususnya akses rekreasi sehat dan pendidikan dasar berkualitas.
>>> Alwi Farhan Juara Australian Open 2026, Kalahkan Dong Tian Yao Dua Gim Langsung
Tujuan dan Perkembangan Player Escort
Kehadiran anak-anak di lapangan bersama para pemain sepak bola mengusung beberapa misi utama.
Salah satunya adalah mengirimkan pesan bahwa stadion sepak bola adalah tempat yang aman dari segala bentuk kekerasan.
Hal ini juga menjadi pengingat agar pemain cenderung tidak bermain kasar terhadap lawan demi menghormati keberadaan anak-anak tersebut.
Kampanye ini terus mendorong masyarakat dunia untuk membela hak hidup layak bagi anak-anak.
Mekanisme pemilihan maskot anak kini bervariasi, bergantung pada kebijakan masing-masing klub atau badan penyelenggara kompetisi. Prosesnya bisa melalui seleksi khusus atau keterlibatan sponsor.
>>> Parade Akbar Piala Dunia 2026 di Meksiko Padukan Budaya Lokal
Di beberapa negara, klub sepak bola bekerja sama dengan sekolah lokal atau tim junior untuk memilih anak-anak yang akan dilibatkan sebagai pendamping pemain.