Persoalannya bukan sekadar harga BBM, melainkan bagaimana menjaga keberlanjutan fiskal tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi.
Argumen ini jauh lebih masuk akal dibanding sekadar mengatakan harga BBM Indonesia masih murah. Masyarakat pada dasarnya mampu menerima kenyataan keterbatasan fiskal.
Yang sulit diterima adalah ketika kesulitan dijelaskan dengan cara yang tidak menyentuh realitas kehidupan mereka.
Dalam psikologi komunikasi publik, pengakuan terhadap beban masyarakat sering lebih penting daripada data statistik panjang.
Ketika pemerintah mengatakan kenaikan harga akan menambah pengeluaran, publik merasa diakui.
Ketika dijelaskan keputusan itu untuk menjaga fiskal dan mencegah beban lebih besar di masa depan, masyarakat memperoleh konteks.
Sebaliknya, ketika yang muncul hanya perbandingan dengan negara lain, yang terdengar bukan penjelasan, melainkan pembelaan.
Pelajaran untuk Pengambil Kebijakan
Jika tujuannya meredakan keresahan publik, berhentilah menjadikan negara lain sebagai cermin utama. Gunakan rumah tangga Indonesia sebagai titik berangkat narasi.
Jelaskan berapa besar tekanan fiskal yang dihadapi negara. Jelaskan risiko jika subsidi terus membengkak.
Jelaskan ke mana penghematan anggaran akan dialihkan.
Dan yang paling penting, jelaskan kapan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Publik lebih mudah menerima pengorbanan apabila mengetahui tujuan akhirnya.
Bangsa yang percaya diri tidak selalu mencari pembenaran dengan melihat halaman tetangga.
Bangsa yang percaya diri berani berkaca pada halamannya sendiri, melihat persoalan dengan jujur, lalu menjelaskan bagaimana persoalan itu akan diselesaikan.
Yang ingin didengar masyarakat bukanlah orang lain membayar lebih mahal.
>>> Belanda Imbang 2-2 Lawan Jepang di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Yang ingin mereka dengar adalah negara memahami beban mereka, memiliki arah yang jelas, dan mampu menunjukkan bahwa setiap rupiah yang dikorbankan hari ini akan kembali dalam bentuk kesejahteraan yang lebih baik di masa depan.