PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 96,5 persen pada tahun 2025. Laba bersih perusahaan hampir mencapai Rp 516 miliar.
Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi jaringan serta peningkatan basis pelanggan ritel dan grosir secara signifikan. Pendapatan dari sektor ritel tumbuh sekitar 21 persen menjadi Rp 1,3 triliun.
>>> Jerman Hajar Curacao 7-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sementara itu, pendapatan dari segmen grosir naik menjadi Rp 876 miliar. EBITDA perusahaan tercatat meningkat 9,8 persen hingga mencapai kisaran Rp 2 triliun.
Ekspansi Jaringan dan Pelanggan
Direktur Utama dan CEO PT Ekamas Mora Republik Tbk, Timotius Max Sulaiman, menjelaskan bahwa capaian ini didukung penguatan infrastruktur digital.
Pada akhir 2025, jumlah homepass tumbuh sekitar 36 persen menjadi lebih dari 1 juta homepass.
Jumlah pelanggan ritel meningkat 46 persen menjadi lebih dari 330.000 pengguna. Pelanggan korporasi atau enterprise juga tumbuh sekitar 44 persen hingga mencapai lebih dari 17.000 pelanggan.
Hingga akhir Desember 2025, panjang total jaringan fiber optik perusahaan mencapai 58.000 kilometer. Kapasitas bandwidth yang dimiliki meningkat 18 persen menjadi sekitar 38 Tbps.
Manajemen melakukan aksi korporasi berupa penggabungan usaha dengan PT Eka Mas Republik pada 22 April 2026. Langkah ini bertujuan membangun platform infrastruktur fiber optik terintegrasi berskala besar.
>>> Belanda vs Jepang Imbang Tanpa Gol di Babak Pertama Piala Dunia 2026
Pasca-merger per 30 April 2026, total homepass gabungan melonjak drastis hingga melebihi 12,7 juta. Jaringan backbone dan akses meluas melebihi 166.000 kilometer.
Jumlah pelanggan ritel gabungan mencapai 2,6 juta dan pelanggan enterprise di atas 17.000.
Ekspansi juga menyasar Fixed Wireless Access (FWA) yang kini mengoperasikan lebih dari 200 on-air sites di 90 kota dan kabupaten.
Ke depan, perusahaan membidik penambahan 5 juta homepass baru serta perluasan jaringan FTTH ke 186 wilayah.
Mora Republik juga menargetkan pembangunan lebih dari 1.000 sites FWA baru dan penambahan 1,5 juta pelanggan pada 2026.
Untuk infrastruktur last-mile dan backbone, fokus diarahkan pada Proyek Rising 8 yang mengoneksikan Jakarta, Batam, hingga Singapura.
>>> Polsek Kuta Selatan Mediasi Kasus Perundungan Siswa SMP di Jimbaran
Proyek ini menggunakan jaringan kabel fiber optik bawah laut sepanjang 1.128,5 km dengan teknologi repeater berkualitas tinggi.