Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,55 triliun melalui penerbitan obligasi global perdana.
Penerbitan surat utang valuta asing itu dilakukan di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin, 15 Juni 2026.
>>> UNISSULA Kukuhkan Ketua KPPU M Fanshurullah Asa sebagai Profesor Kehormatan
Obligasi tersebut mengalami kelebihan permintaan hingga 3,0 kali lipat. Puncak penawaran mencapai US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,40 triliun dari 122 investor mancanegara.
Peringkat Kredit Setara Sovereign Rating
Langkah ini dilakukan setelah instrumen keuangan tersebut mendapatkan peringkat kredit dari Moody's, S&P, dan Fitch yang setara dengan sovereign rating Republik Indonesia.
Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani menyampaikan bahwa tingginya minat pemodal asing didapatkan setelah pihaknya menggelar rangkaian roadshow ke berbagai pusat keuangan dunia sejak 3 Juni 2026.
"Bond kita ini memang sangat sukses, dilihat dari segi permintaannya, dilihat dari segi yield-nya yang relatif rendah.
Karena kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka minta yield premium yang sangat tinggi, ini tidak mereka minta.
Bahkan kita lihat yield-nya sangat-sangat kompetitif sekali," ungkap Rosan dalam keterangan persnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Pemerintah awalnya hanya menargetkan perolehan dana sebesar US$ 1,0 miliar. Namun, karena kuatnya permintaan di pasar, target volume penerbitan kemudian dinaikkan.
"Rencananya kita kalau menerbitkan obligasi, kita akan lihat bisa sampai yang 30 tahun, karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa, ya, Indonesia ini growth-nya ini relatif stabil.
Iya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah tension geopolitik, geoekonomi, itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita," jelasnya.
Penerbitan surat utang ini terbagi ke dalam dua jangka waktu.
Tenor 5 tahun senilai US$ 750 juta dengan imbal hasil 5,35% yang jatuh tempo pada 2031, serta tenor 10 tahun senilai US$ 750 juta berimbal hasil 5,95% yang jatuh tempo pada 2036.