Kehilangan skala besar ini menuntut perhatian serius karena pemulihan populasi alami berjalan sangat lambat.
Pemerintah Indonesia dilaporkan telah menghentikan sementara sejumlah proyek di kawasan hutan lindung Batang Toru, termasuk pertambangan dan perkebunan, untuk meninjau kembali risiko ekologis.
Para penulis studi menegaskan bahwa krisis ini menunjukkan betapa rentannya orang utan Tapanuli terhadap gabungan perubahan iklim, bencana ekstrem, dan hilangnya habitat.
Mereka menyerukan dukungan internasional yang lebih kuat untuk mencegah kepunahan spesies ini.
"Krisis yang dihadapi orang utan Tapanuli menggambarkan pertemuan antara ketidakstabilan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan, sehingga membutuhkan respons terkoordinasi yang sepadan dengan skala ancaman," tulis laporan penelitian.
Langkah taktis dan strategis harus segera dirumuskan secara global.
>>> Hossam Hassan Panggil Hamza Abdelkarim ke Skuad Timnas Mesir
"Melalui perlindungan domestik yang diperkuat, perencanaan yang responsif terhadap iklim, serta bantuan finansial dan teknis global, kita masih bisa mencegah kepunahan pertama spesies kera besar di era modern," tulis laporan penelitian.