>>> Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Mindanao, Tidak Timbulkan Korban
Keluhan Orang Tua Murid
Sementara itu, Rika Iffati Farihah selaku orang tua murid dari Sleman mengeluhkan pihak sekolah yang melarang penyampaian kritik terkait MBG di media sosial.
"Sekolah ini menerima MBG bahkan tanpa konsultasi dengan kami sebagai wali murid ya. Jadi tahu-tahu saja ada pemberitahuan bahwa sekolah akan menerima MBG.
Kami tidak dimintai persetujuan," ujarnya.
"Beberapa waktu kemudian, setelah MBG mulai berjalan, terus mulai ada banyak berita miring ya. Ada keracunan, ada masalah-masalah.
Kembali pihak sekolah memberitahu kami bahwa kami tidak boleh menyampaikan keluhan itu ke medsos tapi harus melalui pihak sekolah atau pihak SPPG-nya," ujarnya.
Rika menilai program ini merepotkan orang tua saat hari libur sekolah karena mereka tetap harus datang mengambil makanan, yang akhirnya memicu penumpukan sampah makanan.
"Jadi itu agak aneh karena anaknya tidak sekolah tapi kami harus datang ke sekolah untuk mengambil MBG.
Ini kan merepotkan ya apalagi misalnya yang memang sedang liburan ke luar kota.
Jadi kadang-kadang akhirnya sering sekali tidak dimakan juga, tidak diambil, entah bagaimana sekolah kemudian harus mengurusi soal waste itu, soal sampah itu," ujarnya.
Rika juga menyayangkan kualitas menu yang dianggap kurang sehat dan lebih menginginkan anggaran besar dialokasikan untuk fasilitas sekolah serta kesejahteraan guru.
"Jadi kami merasa tidak diuntungkan oleh MBG. MBG tidak berpengaruh positif pada para penerimanya termasuk anak-anak kami.
>>> Mahasiswa Unjuk Rasa di Depan Gedung DPR RI, Tuntut Keadilan dan Stabilitas Ekonomi
Malah cenderung negatif karena mereka akhirnya ketakutan keracunan, mereka juga kemudian terbiasa dengan makanan-makanan ultra processed food dan sebagainya," ujarnya.