Mantan penasihat pemerintah Israel Daniel Levy menilai klaim kemenangan Netanyahu tidak lagi kredibel.
"The assumption was that if you pull America into a war, then it is a given that Iran will be crushed," katanya.
Levy menilai kegagalan prediksi Israel berakar dari cara pandang dan arogansi internal. "The assumption itself is infused with colonial racism and Israeli hubris," kritiknya.
Menurutnya, Israel tidak pernah memperhitungkan kemampuan diplomasi dan posisi tawar Teheran. "The notion that Iran could possibly outsmart, out-strategise, and gain leverage was not on the agenda," cetusnya.
Pengamat eksternal Ahron Bregman menilai perang tiga setengah bulan ini justru memperkuat posisi rezim radikal di Teheran. "Netanyahu inflicted on Israel a strategic catastrophe," katanya.
Bregman memprediksi Lebanon akan kembali menjadi pemantik konflik.
"He initiated a war with Iran which aimed to topple its regime, but the regime is still standing and it is [more] radical than before.
Iran will rebuild its missile arsenal. Lebanon will be the spark," ujarnya.
Ia meragukan kesediaan Washington untuk kembali terlibat dalam perang terbuka melawan Iran. "Will the US join Israel to fight Iran again?
I doubt any US president with a shred of common sense will attempt any war with Iran," pungkasnya.
Kritik dari internal militer juga mengarah pada strategi negosiasi Teheran. "Iran Never Won a War, Never Lost a Negotiation," kata Jenderal Alex Shavit.
Dampak ekonomi perang ini meluas ke aktor global lain.
Konflik sempat menaikkan harga minyak dunia dan mengganggu investasi China dalam proyek Belt and Road Initiative di Iran.
Kegagalan sistem pertahanan udara Rusia di Iran menghadapi serangan AS-Israel turut mengikis pengaruh diplomatik Moskow di Timur Tengah.
>>> Pemprov Jateng Buka Pendaftaran SPMB 2026 Secara Online
Keterlibatan Ukraina dalam kerja sama pertahanan drone dengan negara-negara Teluk juga menjadi faktor.