⌂ Beranda News Meta Kesulitan Monetisasi Investasi AI Ratusan Triliun

Meta Kesulitan Monetisasi Investasi AI Ratusan Triliun

Meta Kesulitan Monetisasi Investasi AI Ratusan Triliun
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan Meta
A A Ukuran Teks16px

CEO Meta Mark Zuckerberg kini menghadapi tantangan besar untuk mengubah investasi besar pada teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi keuntungan finansial komersial bagi perusahaan.

Langkah komersialisasi ini diambil setelah Meta menggelontorkan dana sebesar USD 14 miliar atau sekitar Rp 248 triliun untuk merekrut pakar AI Alexandr Wang beserta startup miliknya, Scale AI, sekitar setahun lalu.

>>> Omoway Indonesia Catat Pemesanan Skuter Listrik Omo X Tembus 2.000 Unit

Dana besar tersebut diguyur demi mengejar ketertinggalan teknologi dari para pesaing utama seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.

Meskipun investasi tersebut berhasil meluncurkan model AI baru bernama Muse Spark pada April 2026 yang mengintegrasikan layanan Facebook serta Instagram, Meta belum merasakan dampak positif secara finansial.

Kondisi ini diperparah dengan anjloknya saham Meta sebesar 18 persen dalam 12 bulan terakhir, meskipun perusahaan sempat melaporkan pertumbuhan pendapatan sebesar 33 persen pada kuartal pertama.

Kegagalan Model Open Source dan Perubahan Strategi

Perubahan strategi investasi AI oleh Zuckerberg ini dipicu oleh kegagalan total model open source Llama 4 pada April 2025 yang tidak mampu memikat para pengembang.

Kegagalan tersebut membuat arah bisnis AI perusahaan dipertanyakan, sebelum akhirnya Zuckerberg memutuskan mendatangkan Wang dua bulan kemudian.

Tantangan komersialisasi produk baru Meta ini kemudian mendapat perhatian serius dari para analis pasar modal di Wall Street yang menilai perusahaan perlu membuktikan hasil nyata.

"Meta perlu memberi lebih banyak bukti nyata terkait adopsi maupun komersialisasi.

Investor menantikan Meta memonetisasi produk baru yang mengutamakan AI, di luar dampak positif substansial yang diberikan AI dalam menyempurnakan model periklanan," ujar Ralph Schackart, analis di William Blair.

>>> Unpad Buka Program Kredensial Mikro Mata Kuliah untuk Umum

Kondisi di internal Meta sendiri juga dibayangi oleh tantangan berat akibat pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 8.000 karyawan serta munculnya ketegangan di antara petinggi organisasi AI.

Komunitas teknologi bahkan dinilai mulai bersikap skeptis terhadap posisi Meta dalam persaingan kecerdasan buatan global saat ini.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru