⌂ Beranda News BI dan China Perluas Penggunaan Mata Uang Lokal untuk Transaksi Bilateral

BI dan China Perluas Penggunaan Mata Uang Lokal untuk Transaksi Bilateral

BI dan China Perluas Penggunaan Mata Uang Lokal untuk Transaksi Bilateral
Ilustrasi kerja sama Bank Indonesia dan China dalam penggunaan mata uang lokal
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China terus memperkuat ekosistem penggunaan mata uang lokal melalui kebijakan Local Currency Transaction (LCT).

Langkah ini bertujuan menekan ketergantungan pada dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral kedua negara.

>>> MK Kebut Putusan Uji Materiil Anggaran Makan Bergizi Gratis

Hingga April 2026, nilai transaksi melalui skema LCT telah mencapai 22,7 miliar dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai kerja sama ini sebagai sentimen positif bagi sistem pembayaran lintas batas.

Kerja sama diperkuat melalui Bilateral Currency Swap Arrangement dan penunjukan PT Bank Mandiri sebagai peserta langsung Cross-border Interbank Payment System.

"Menurut saya langkah BI dan diikuti kerja sama Mandiri ini sebuah langkah strategis yang sangat positif untuk mendorong transaksi nilai tukar non-dolar AS," ujar Andry kepada Kompas.

com, Selasa (16/6/2026).

Skema LCT memungkinkan pelaku usaha menggunakan rupiah atau yuan secara langsung tanpa konversi ke dolar AS terlebih dahulu.

Hal ini dinilai mampu memangkas biaya konversi tambahan serta meminimalkan risiko fluktuasi kurs.

>>> BPS Jakarta Gelar Sensus Ekonomi 2026 untuk Susun Kebijakan Pembangunan

"Untuk memperkuat stabilitas rupiah, kita perlu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan satu nilai tukar, contohnya dolar AS. Mendorong LCT dengan China adalah upaya mengurangi ketergantungan tersebut," jelas Andry.

Ia menambahkan bahwa efektivitas kebijakan mulai terlihat dari meningkatnya volume transaksi menggunakan renminbi untuk perdagangan langsung dengan China.

Kerja sama LCT juga telah dijalankan BI dengan Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Meskipun penggunaan mata uang lokal belum memangkas ketergantungan terhadap dolar AS secara signifikan saat ini, dampaknya diproyeksikan semakin kuat di masa depan.

"Masih belum mengurangi ketergantungan secara signifikan, namun ini langkah strategis yang bisa dilihat dampak positifnya di masa depan," kata Andry.

Integrasi ekonomi yang semakin erat diprediksi memberikan dampak berantai positif bagi perekonomian masyarakat luas.

Pengembangan infrastruktur keuangan digital antardua negara diharapkan mempermudah pemanfaatan mata uang lokal di sektor yang lebih luas, termasuk transaksi ritel.

>>> Skill Mismatch Ancam Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

"Langkah tersebut akan semakin memperkuat efektivitas LCT ke depan karena memungkinkan transaksi ritel lintas batas dilakukan dengan lebih mudah, cepat, efisien, inklusif, dan andal," tuturnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru