Sejumlah asosiasi perunggasan nasional menyepakati harga acuan ayam hidup atau livebird di kisaran Rp19.500 hingga Rp22.000 per kilogram.
Kesepakatan ini diambil dalam rapat koordinasi di Bogor pada Rabu (17/6/2026) untuk mengatasi anjloknya harga ayam di tingkat peternak yang sempat mencapai Rp15.000-Rp16.000 per kilogram.
>>> Inggris Hadapi Kroasia di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Penurunan harga tersebut jauh di bawah biaya produksi yang diperkirakan mencapai Rp22.000 per kilogram.
Empat asosiasi yang terlibat meliputi Pinsar, PPUN, Gopan, dan Permindo, bersama perwakilan peternak Bogor Raya serta Banten.
Rincian Harga Berdasarkan Bobot
Kesepakatan mengatur harga secara rinci berdasarkan bobot ayam.
Ukuran 0,8-1 kilogram dipatok Rp22.000 per kilogram, ukuran 1-1,2 kilogram seharga Rp21.000 per kilogram, dan ukuran 1,2-1,4 kilogram sebesar Rp20.500 per kilogram.
Sementara untuk ukuran 1,4-1,6 kilogram ditetapkan Rp20.000 per kilogram, dan bobot di atas 1,6 kilogram dihargai Rp19.500 per kilogram.
Ketua Umum Permindo Kusnan menekankan bahwa regulasi baru ini memerlukan kedisiplinan tinggi dari seluruh pelaku usaha di lapangan.
>>> Pemerintah Dorong Pembentukan LPS Koperasi untuk Lindungi Dana Anggota
"Keberhasilan perbaikan harga tidak hanya ditentukan oleh komitmen di atas kertas, tetapi juga oleh konsistensi seluruh pelaku usaha dalam menjalankannya di lapangan," ujar Kusnan.
Kondisi pasar yang sehat dinilai sangat krusial bagi peternak rakyat yang tertekan oleh tingginya biaya pakan dan ketidakstabilan harga.
Anjloknya nilai jual ayam hidup merupakan masalah klasik akibat kelebihan pasokan yang tidak sebanding dengan penyerapan pasar.
Tekanan ini diperparah oleh daya beli masyarakat yang belum pulih total dan rantai distribusi yang panjang.
Untuk meminimalkan kerugian, sebagian peternak terpaksa menunda waktu panen meskipun berisiko meningkatkan biaya pemeliharaan.
>>> Mahasiswa dan Masyarakat Gelar Aksi Tolak Program Pemerintah di Jawa Timur
Pelaku usaha juga mendorong pengaturan produksi day old chick (DOC) serta pembatasan populasi indukan guna mengendalikan oversuplai.