Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat.
Koreksi ini terjadi setelah Federal Reserve memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuan mereka.
>>> 11 Kepala Desa Jombang Kunjungi IKN, Kagumi Arsitektur Modern
Proyeksi terbaru dari bank sentral Amerika Serikat memunculkan sinyal potensi kenaikan suku bunga pada tahun 2026.
Hal tersebut memicu lonjakan imbal hasil obligasi sekaligus mendorong aksi jual di pasar modal.
Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 507,12 poin atau menyusut 0,98 persen.
Padahal, indeks yang memuat 30 saham unggulan ini sempat mencetak rekor harian tertinggi dalam tiga hari berturut-turut sebelum akhirnya mendarat di level 51.492,55.
Pelemahan juga melanda indeks S&P 500 yang merosot hingga 1,21 persen menuju area 7.420,10.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite turun 1,34 persen dan menyudahi perdagangan di posisi 26.021,66.
Sektor teknologi berkapitalisasi besar menjadi faktor utama yang menyeret performa pasar. Sejumlah korporasi raksasa seperti Microsoft, Meta Platforms, Alphabet, dan Amazon kompak berakhir di zona merah.
Tekanan pasar kian bertambah seiring jatuhnya saham SpaceX untuk pertama kali semenjak resmi diperdagangkan.
Perusahaan tersebut baru saja melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham pada Jumat lalu.
Kendati demikian, penguatan saham di sektor semikonduktor mampu menahan kejatuhan Wall Street menjadi tidak terlalu dalam. Dua saham yang mencatatkan kenaikan adalah Intel dan Micron Technology.
Keputusan The Fed dan Dampaknya
Dalam rapat perdana yang dipimpin oleh Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral AS memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan pada rentang 3,5-3,75 persen.
Dokumen Summary of Economic Projections menunjukkan bahwa beberapa pejabat memprediksi adanya kenaikan suku bunga pada tahun 2026.
>>> The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan pada Kisaran 3,5-3,75 Persen
Estimasi nilai tengah untuk suku bunga dana federal pada akhir tahun bergeser naik menjadi 3,8 persen dari proyeksi bulan Maret yang sebesar 3,4 persen.