Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan sementara dengan Iran di Istana Versailles, Perancis, untuk mengakhiri konflik tiga bulan dan membuka kembali jalur pelayaran minyak Selat Hormuz mulai Rabu (17/6/2026).
Langkah diplomasi ini diambil guna meredakan risiko depresi ekonomi internasional setelah blokade berbulan-bulan memicu lonjakan harga energi global.
>>> Komdigi Tangani Ribuan Pelanggaran HKI di Situs Ilegal
Dokumen nota kesepahaman sebelumnya telah ditandatangani secara digital oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu (14/6/2026) sebelum disahkan oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Isi Kesepakatan dan Dampak Pasar
Kesepakatan tersebut mencakup pemberian keringanan sanksi ekspor minyak Iran, sementara program nuklir dan insentif ekonomi tambahan akan dibahas dalam perundingan lanjutan selama 60 hari ke depan.
Pemulihan jalur pelayaran ini langsung memberikan sentimen positif bagi pasar global dengan turunnya harga minyak mentah Brent hingga di bawah 80 dolar AS per barel pekan ini.
Memorandum ini juga memuat rencana program pembangunan Iran senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5.328 triliun.
Trump mengonfirmasi bahwa dana tersebut bukan berasal dari pemerintah AS dan ia membuka peluang pengembalian aset Iran yang dibekukan demi menjaga kepercayaan terhadap dolar AS.
>>> Turis China Jadi Korban Perampokan Bersenjata di Kota Meksiko
Kritik dari Politisi Republik
Kebijakan luar negeri yang diambil oleh Trump ini langsung menuai gelombang kritik dari sejumlah politisi Partai Republik yang sebelumnya mendukung penuh operasi militer terhadap Iran sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
Senator dari Texas, Ted Cruz, mengkritik keras langkah pelonggaran sanksi ekonomi terhadap pihak Teheran yang dinilai keliru.
Kritik senada juga disampaikan oleh Senator dari Carolina Selatan, Lindsey Graham, terkait status dokumen kesepakatan tersebut.
Mantan Wakil Presiden AS Mike Pence turut menyuarakan keberatan karena kesepakatan awal tidak mewajibkan pembongkaran program senjata nuklir Iran secara terverifikasi.
Sementara itu, Senator dari Louisiana, Bill Cassidy, memandang keputusan ini sebagai blunder besar dalam diplomasi luar negeri AS selama beberapa dekade terakhir.
>>> Lawson Gelar Promo Potongan Harga Makanan dan Minuman Juni 2026
Di sisi lain, analis dari Bloomberg Economics menilai bahwa Iran mendapat keuntungan lebih besar dari pertukaran pembukaan Selat Hormuz dengan keringanan ekonomi ini, mengingat pemerintahan di Teheran tetap bertahan kuat menghadapi tekanan militer.