⌂ Beranda News Dokter Ungkap Penyebab Gangguan Jantung Pelari Maraton Muda

Dokter Ungkap Penyebab Gangguan Jantung Pelari Maraton Muda

Dokter Ungkap Penyebab Gangguan Jantung Pelari Maraton Muda
Pelari maraton muda dengan ekspresi sakit
A A Ukuran Teks16px

Risiko gangguan jantung saat lomba lari jarak jauh tidak hanya mengintai kelompok usia senior, tetapi juga pelari usia muda.

Pernyataan ini muncul menyusul insiden meninggalnya seorang peserta kategori half marathon BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026, Agus Putranadi (29), setelah kolaps saat perlombaan.

>>> Menteri Hukum Hibahkan Tanah Pribadi untuk Program Sekolah Rakyat Kemensos

Pakar kesehatan dari Yada Institute, dr. Andik Wijaya, MD, MRepMed, menjelaskan bahwa pandangan masyarakat mengenai faktor usia dan keamanan dalam olahraga lari jarak jauh perlu diperbaiki.

Menurut dr. Andik, usia muda tidak berarti pasti aman, begitu pula usia senior tidak berarti pasti berbahaya. Anggapan ini perlu diluruskan.

Statistik dan Penyebab Utama

Berdasarkan data studi epidemiologi internasional, tingkat kematian pada ajang maraton berkisar antara 0,5 sampai 2 kasus per 100.000 peserta.

Meskipun statistik menunjukkan angka yang kecil, kejadian di JAKIM 2026 memicu perhatian besar mengenai kondisi medis laten para pelari.

Maraton sejatinya bukan penyebab kematian itu sendiri. Rata-rata yang bersangkutan memang memiliki kondisi penyakit yang sudah ada dalam tubuhnya, tetapi tidak menyadarinya.

Kelainan genetik berupa hypertrophic cardiomyopathy (HCM) menjadi pemicu utama kematian mendadak pada atlet lari di bawah usia 35 tahun.

>>> Indonesia dan Uzbekistan Sepakati Kerja Sama UMKM Perempuan

Kondisi ini menyebabkan penebalan dinding ventrikel yang mengganggu kelistrikan jantung saat aktivitas fisik berat.

Pada kasus seperti ini, penderita mengalami kondisi yang bisa menyebabkan gangguan pelistrikan jantung, terutama ketika melakukan aktivitas ekstrem.

Pemeriksaan kesehatan secara objektif melalui elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiografi sangat disarankan karena kelainan jantung ini kerap muncul tanpa gejala awal.

Hal ini sebenarnya bisa dicegah karena sangat mudah dideteksi jika dilakukan skrining sebelum orang memulai pelatihan untuk mengikuti aktivitas lari jarak jauh.

Bagi pelari di atas usia 35 tahun, ancaman utama bergeser ke penyakit jantung koroner (ASCVD) yang memerlukan tambahan skrining berupa tes treadmill.

Peningkatan tren olahraga lari di masyarakat kini menuntut kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya pemeriksaan medis berkala untuk mencegah fatalitas.

>>> Persita Tangerang Lepas 13 Pemain, Evaluasi Skuad Jelang Musim Baru

Yang terpenting adalah melakukan skrining dengan baik dan memahami kondisi tubuh masing-masing.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru