Ia membandingkan pendekatan tersebut dengan kesepakatan nuklir sebelumnya, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang dinegosiasikan pada masa Presiden Barack Obama bersama Uni Eropa.
Trump selama ini dikenal sangat kritis terhadap JCPOA dan menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan itu pada 2018.
"Kesepakatan Obama adalah jalan menuju senjata nuklir. Dan, sebut saja ini kesepakatan Trump, adalah tembok untuk senjata nuklir.
Tidak ada yang bisa melewatinya. Kami membangun tembok," kata Trump pada Rabu.
Namun, sejumlah pihak menilai masih belum jelas apakah kesepakatan baru ini benar-benar bisa melampaui model JCPOA yang sebelumnya berbasis pada keringanan sanksi dengan imbalan pembatasan program nuklir Iran.
Trump sendiri pernah mengatakan pada 2020 bahwa Iran "tidak pernah menang dalam perang, tapi tidak pernah kalah dalam negosiasi."
"Apa yang Iran katakan akan mereka lakukan atau tidak lakukan sebenarnya tidak terlalu relevan.
Yang penting adalah tingkat verifikasi yang mereka terima," kata Alan Eyre, peneliti Middle East Institute sekaligus mantan negosiator AS untuk JCPOA, kepada DW.
Ia menambahkan, perbandingan antara kesepakatan Trump dan JCPOA baru bisa dilakukan jika memang perjanjian baru itu benar-benar berhasil dinegosiasikan dan diimplementasikan.
Jalan Panjang Menuju Kesepakatan Final AS-Iran
Para negosiator Amerika Serikat dan Iran diperkirakan mulai membahas detail teknis kesepakatan di Swiss pada akhir pekan ini.
Swiss kembali menjadi tuan rumah proses diplomasi, setelah sebelumnya beberapa kali dipakai sebagai lokasi perundingan internasional.
Resor Bürgenstock di Swiss sendiri juga pernah menjadi lokasi KTT perdamaian Ukraina pada 2024, serta perundingan Sudan pada 2002 silam.
Namun, sejumlah contoh itu juga menunjukkan bahwa kesepakatan di meja perundingan tak selalu berujung pada perdamaian yang bertahan lama.
Perang di Ukraina justru masih berlangsung dua tahun setelah pertemuan tersebut, sementara Sudan justru kini menghadapi perang saudara dan krisis kemanusiaan yang meluas.
Kondisi itu menjadi pengingat bahwa membangun perdamaian yang berkelanjutan bukan proses yang sederhana.
Batas waktu 60 hari yang direncanakan untuk pembicaraan awal AS-Iran pun dinilai banyak pihak sebagai target yang fleksibel, bukan tenggat yang pasti.
Artinya, proses ini kemungkinan akan berlangsung lebih lama dalam status "kesepakatan sementara".
Alan Eyre, peneliti Middle East Institute sekaligus mantan negosiator AS untuk JCPOA, menilai tidak realistis jika kesepakatan besar bisa dicapai dalam 60 hari.
"Tidak akan ada kesepakatan yang benar-benar kuat dalam 60 hari.
>>> PT KAI Beri Diskon 30% Tiket Ekonomi Komersial untuk Libur Sekolah
Dibutuhkan negosiasi teknis yang serius dan berkelanjutan, dan saya meragukan apakah pemerintahan saat ini siap dan mampu melakukannya," ujarnya kepada DW.